Kuneng kang asih awelas ring Sira Ken angrok ing kina duk sira sedeng kasyasihpada ingundang kabeh, tinuking denira winales pawilasane, makasi Sira Bango samparan, Tan ucapaen Sira mandaleng turyantapada, lawan anking apamde Wesi ring lulumbang, Aran pu Gandring, satu apande ring lulumbang luputeng sarik purih , satampaking wulukune Wadung pacule.
Terjemah:
Adapun yang memberikan kebaikan kepada Ken angrok saat dulu ia menderita diundang semua untuk dibalas kebaikan, terutama Bango samparan. Tak perlu dikatakan pemimpin Mandala di turnyanpada (juga diundang), serta anak pandai besi di lulumbang yang bernama Mpu Gandring, seratus pandai di lulumbang juga dibebaskan dari pajak atas pembuatan bajak, beliung dan cangkul mereka.
Ken Arok adalah sosok penting dalam sejarah kerajaan Singhasari, tidak hanya dikenal sebagai pemimpin yang kuat, tetapi juga sebagai orang yang selalu mengingat baik dan menjaga keadilan terhadap semua pihak yang pernah berinteraksi dengannya.
Setelah mencapai kedudukan tinggi sebagai raja jawa, ia tidak melupakan Bango Samparan tukang gentho yang merupakan ayah angkatnya yang pernah merawatnya dengan penuh kasih dari masa kecil di Karuman.
Ken Arok memberikan penghormatan dan dukungan yang layak kepada Bango Samparan sebagai bentuk balasan atas kebaikan yang diterima.
Ia juga memberikan penghormatan bagi Mpu Palot, pemimpin Mandala Turnyan yang pernah memberikan kontribusi penting, Ken Arok juga memberikan penghargaan yang sesuai dan menjaga hubungan baik dengan komunitasnya.
Ia juga mengatur perkawinan untuk mempererat hubungan keluarga: putra Danghyang Lohgawe bernama Wang bang Sadang, dinikahkan dengan Cucupu Ranti, putri Bango Samparan. Dengan cara ini, kedua ayah angkatnya menjadi berbesan, memperkuat ikatan kasih sayang dan kebersamaan antar keluarga.
Tak hanya kepada mereka yang telah berjasa, Ken Arok juga memperhatikan mereka yang pernah mengalami kesusahan akibat perbuatanya di masa sebelumnya.
Seratus orang pandai besi dari Lulumbang, yang sebelumnya dikenai pajak berat atas pekerjaannya, dibebaskan dari beban tersebut agar mereka dapat hidup lebih layak dan mengembangkan keterampilan mereka.
Lebih jauh lagi, ia mengambil langkah penting dalam kesetaraan dengan memberikan wewenang yang sama kepada anak Mpu Gandring dan anak Kebo Hijo.
(*)



