Oleh: Azka Qintory
Mabur.co – Setiap Anda scrolling media sosial Anda akan menemukan ribuan atau bahkan jutaan konten baru yang diproduksi setiap hari. Baik itu dari akun personal, akun perusahaan, atau bahkan akun robot atau AI.
Dari setiap konten yang dibuat, terutama yang dibuat oleh akun personal, hampir dipastikan bahwa sebagian besar konten tersebut berisi kegiatan sehari-hari, seperti misalnya makan jenis makanan tertentu di restoran yang dianggap sedang viral, melakukan perjalanan atau liburan ke suatu tempat, atau sedang kencan bersama pasangan atau teman, yang bisa dikatakan tidak penting untuk diketahui oleh orang lain.
Mungkin ada saja orang atau pihak tertentu yang merasa terhibur dengan postingan-postingan semacam itu, sekaligus memastikan bahwa Anda adalah orang yang selalu meng-“update” kegiatan Anda sehari-hari. Tapi, apakah sebegitu pentingnya Anda terus meng-update kegiatan sehari-hari Anda, yang sebenarnya tidak begitu penting itu?
Sejak awal kemunculannya, media sosial memang ditujukan untuk menghubungkan antarmanusia, dalam hal ini bisa teman dari offline yang beralih ke online, atau sebaliknya.
Namun lama-kelamaan, media sosial berkembang menjadi ajang curhat, berbagi kegiatan sehari-hari, bahkan juga tempat pamer kekayaan, serta promosi produk atau keahlian tertentu.
Meskipun kegunaan media sosial sudah mulai bergeser, namun tetap saja banyak orang (terutama cewek) yang doyan memamerkan kehidupannya sehari-hari ke ranah digital seperti media sosial.
Dilansir dari IDN Times, hal itu disebabkan karena mereka ingin mendapatkan validasi atau perhatian, mengekspresikan diri, serta mengatasi kebosanan yang mungkin dialami di dunia nyata. Saking inginnya mengekspresikan diri, cewek-cewek ini sampai rela menumpahkan apapun perasaannya ke media sosial, meskipun kemungkinan besar itu bukanlah hal yang penting untuk diketahui oleh orang lain. Ketika kemudian perasaannya itu mendapat dukungan secara positif, di situlah mereka akan terus berbagi tentang kesehariannya di dunia maya.
Postingan yang seringkali berupa ungkapan perasaan atau ekspresi itu biasanya ucapan ulang tahun terhadap teman atau pasangan, screenshot chat WA kepada teman, DM Instagram dari orang yang tidak dikenal (anonim), atau bahkan urusan rumah tangga juga kadang-kadang ikut di-share, padahal semestinya urusan semacam itu cukup menjadi ranah keluarga atau orang-orang terdekat.
Kalau diperhatikan lebih jauh, apa esensi atau tujuan utama dari setiap postingan tersebut? Seandainya pun ditanyakan, biasanya jawabannya cenderung datar, haha hihi, tidak punya landasan kuat, atau cenderung egoistis (“ya terserah gue” dan sebagainya).
Jika memang ingin benar-benar mengungkapkan perasaan, ada begitu banyak saluran yang bisa dimanfaatkan untuk melakukannya, baik yang gratis maupun berbayar.
Apalagi untuk postingan yang sifatnya remeh seperti ucapan selamat ulang tahun, sedang makan di restoran ini, sedang melakukan aktivitas ini di lokasi itu, dan seterusnya. Semua itu bisa disampaikan kepada pihak-pihak yang lebih “berkepentingan” (misalnya pasangan, keluarga, teman dekat, dan sebagainya), bukan ke kalangan umum yang bahkan Anda sendiri belum tentu mengenalnya.
Belum lagi kemungkinan postingan tersebut disalahgunakan, diedit, dan masih banyak lagi.
Tidak Ada Lagi Privasi
Konsep sosial media, khususnya Instagram, sebenarnya lebih mengarah pada public figure, atau artis. Artis, sebagaimana kita tahu, merupakan tokoh publik yang setiap gerak-geriknya selalu menarik untuk diketahui oleh publik.
Terlebih di Indonesia, di mana orang-orangnya terkenal suka “kepo” terhadap urusan orang lain, termasuk juga artis.
Mau itu sedang belanja di sebuah mal, bermain bersama keluarga, atau menuju ke parkiran untuk memarkir mobilnya, semua hal remeh itu seolah-olah sangat menarik untuk diketahui oleh publik. Penontonnya pun terbilang lumayan.
Sayangnya hal itu malah diadopsi berlebihan oleh hampir seluruh pengguna sosial media. Di mana mereka merasa ‘sok artis’ sampai-sampai ketagihan membagikan seluruh kegiatannya kepada publik, meskipun sebenarnya tidak terlalu penting.
Akibatnya, mereka jadi kehilangan privasi atas diri mereka sendiri, karena segala sesuatunya sudah diumumkan ke publik, alias menjadi konsumsi publik.
Bayangkan saja, ketika kegiatanmu sudah menjadi konsumsi publik, netizen atau publik pun ikut-ikutan mengatur atau mengurusi kehidupan pribadimu, padahal mereka bukanlah siapa-siapa dalam hidupmu, tapi seolah-olah sudah merasa paling tahu segalanya tentang hidup dan aktivitasmu.
Terlebih jika ternyata postinganmu itu “melawan arus”, atau tidak sesuai dengan ketentuan masyarakat umum. Misalnya saja Anda kedapatan memposting foto saat makan dengan tangan kiri. Tentu saja itu bukan hal yang lazim bagi masyarakat umum, jadi siap-siap saja kena bully oleh netizen, yang ujung-ujungnya jadi kena masalah mental. Padahal cuman kedapatan makan pakai tangan kiri doang, itupun aslinya tidak disengaja, karena bukan itu poin utama yang ingin disampaikan dari postingan tersebut.
Orang Sebenarnya tidak Terlalu Peduli dengan Hidupmu
Meskipun banyak orang atau netizen yang mengomentari postingan tentang kegiatan pribadimu, namun itu bukan berarti bahwa mereka benar-benar peduli denganmu. Mengapa demikian? Hal itu terjadi karena memang pada dasarnya mereka tidak benar-benar mengenalimu, dan hanya berkomentar berdasarkan apa yang mereka lihat secara kasat mata di dunia maya.
Gambar atau video yang diposting pun pada dasarnya juga bisa menipu, sehingga komentar yang masuk pun tidak sepenuhnya benar-benar menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi di lokasi kejadian.
Di samping itu, apakah netizen ini berani bertanggung jawab, seandainya komentarnya benar-benar dituruti?
Misalnya ada komentar dari netizen yang menulis “Segeralah menikah, karena menikah itu ibadah. Jangan ditunda-tunda ntar keburu tua”. Apakah netizen ini sanggup membiayai seluruh proses pernikahan si pembuat postingan, agar komentarnya bisa benar-benar menjadi kenyataan.
Paling-paling netizen yang satu ini tidak akan berani menanggung biaya pernikahan si pembuat postingan, karena dia sendiri belum menikah dan hanya menyampaikan nasihat umum atau dari pemuka agama.
Itulah kenyataan pahit dari media sosial, hanya berani bersuara di balik keyboard, tanpa pernah benar-benar tampil, apalagi bertanggung jawab atas komentarnya sendiri.
Tapi balik lagi, itu juga salah Anda. Karena Andalah yang memancing netizen untuk berkomentar, apalagi tentang urusan pribadi Anda, yang seharusnya bukan ranah publik. (*)
Azka Qintory, jurnalis Mabur.co



