Sejarah Islam sering kali ditulis dengan tinta air mata dan darah di sepanjang garis patahan Sunni-Syiah.
Namun, jika kita melihat lebih dalam pada peta geopolitik kontemporer, hal ini sering kali bukan murni soal fiqih atau teologi, melainkan “siapa yang menguasai jalur energi dan pengaruh.”
Di tengah hiruk-pikuk inilah, suara dari Teheran —lewat Sayyid Ali Khamenei— muncul dengan nada yang mengejutkan banyak pihak: sebuah fatwa pengharaman penghinaan terhadap sahabat dan istri Nabi keluar pada tanggal 13 Oktober 2010 di Majalah Al–Mannar saat itu.
وقال شيخُ الأزهر في البيان إنه تلقّى بالتقديرِ والترحيبِ الفتوى الكريمة التي أصدرها السيدُ الخامنئي بتحريمِ الإساءةِ إلى الصحابةِ رضوانُ اللهِ عليهم، أو المساسِ بأمهاتِ المؤمنين أزواجِ الرسولِ صلى الله عليه وسلم.
Syekh Ahmad At-Tayyib, Sang Imam Besar Al-Azhar saat itu, tidak melihat fatwa itu sebagai strategi politik belaka.
Ia membacanya sebagai “pemahaman yang benar dan pengetahuan mendalam” (‘ilmin shahih wa idrakin ‘amiq).
Bagi Al-Azhar, Khamenei bukan sekadar pemimpin politik, melainkan seorang marja’ yang sadar bahwa “fitnah” adalah senjata paling mematikan bagi eksistensi umat di hadapan hegemoni global.
Secara kritis, kita boleh bertanya: Mengapa fatwa ini begitu monumental?
Sejak Revolusi 1979, Iran berada di bawah tekanan narasi “Ekspor Revolusi”.
Namun, Khamenei menggeser paradigma tersebut menjadi “Persatuan Islam” (Wahdah Islamiyyah).
Data menunjukkan bahwa dalam beberapa dekade terakhir, ketegangan sektarian di Timur Tengah —mulai dari krisis Irak hingga perang proksi di Yaman— sering kali dipicu oleh sentimen kebencian terhadap simbol-simbol suci masing-masing mazhab.
Dengan mengharamkan penghinaan terhadap Ummahatul Mukminin (istri-istri nabi), Khamenei sebenarnya sedang memotong urat nadi ekstremisme yang sering dipelihara oleh kelompok-kelompok seperti “Syiah London” (Yasser al-Habib) yang justru merusak citra Syiah dari dalam.
Syaikh At-Tayyib dengan jernih menyatakan bahwa perbedaan pendapat harus tetap berada di “lingkaran ijtihad para ulama” dan tidak boleh menyentuh fondasi persatuan umat.
Ini adalah pengakuan bahwa Syiah di bawah kepemimpinan Khamenei adalah Syiah yang mencari titik temu (kalimatun sawa’), bukan Syiah yang mencari perselisihan.
Kita bisa melihat dengan jernih, bahwa fatwa ini sebagai jembatan yang dibangun di atas jurang yang menganga.
Di saat kekuatan Barat dan sekutunya sering kali memainkan kartu devide et impera (pecah belah), kesepakatan batin antara Al-Azhar dan Teheran adalah sebuah anomali yang indah.
Alquran dalam surat Al-Anfal ayat 46 yang dikutip Syekh Al-Tayyib, “Janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu,” menjadi basis epistemologis bahwa perpecahan adalah dosa sejarah.
Khamenei, dalam konteks ini, tampil sebagai sosok Syiah yang menempatkan “Kehormatan Islam” di atas “Fanatisme Golongan”.
Jadi, Syiah seperti apakah Ali Khamenei itu?
Ia adalah wajah Syiah yang inklusif secara strategis dan disiplin secara teologis.
Ia adalah tipe pemimpin yang memahami bahwa musuh sejati umat Islam bukanlah mereka yang berbeda dalam rincian furu’iyyah, melainkan ketidakadilan global dan penjajahan modern.
Selain itu Syekh Ahmad al-Tayyib dengan tegas menyatakan, bahwa Syiah adalah bagian dari saudara seiman.
Pernyataan ini bukan sekadar diplomasi teologis, melainkan upaya memungut kembali serpihan cermin yang pecah.
Di bawah bayang-bayang sejarah yang perih, kita sering lupa bahwa perbedaan imamah hanyalah soal bagaimana arah memandang, sementara langit yang dijunjung tetaplah Tauhid yang sama, bersumber dari Alquran dan hadis yang sama pula.
Menarik garis demarkasi yang kaku hanya akan membuat kita terjebak dalam narsisme perbedaan kecil, seolah-olah kebenaran adalah milik yang dikapling secara sepihak oleh mereka yang gemar menghunus kata “sesat”.
Kini, musuh yang sebenarnya bukanlah ia yang takbirul ihram dengan cara berbeda, melainkan ekstremisme yang tumbuh seperti benalu di kedua belah pihak —baik mereka yang mencerca sahabat maupun mereka yang hobi memusyrikkan sesama.
Di saat Palestina luluh lantak oleh kekejaman zionis yang nyata, sungguh sebuah ironi yang getir jika kita masih sibuk merawat dendam teologis dan antropomorfisme yang dangkal.
Kedewasaan beriman hari ini diuji bukan dari seberapa fasih kita mengkafirkan dan menyesatkan, melainkan seberapa mampu kita merajut ukhuwah di atas puing-puing prasangka demi kemanusiaan yang lebih besar.
Pujian tulus dari Al-Azhar adalah bukti otentik bahwa di level tertinggi intelektualitas Islam, tembok-tembok kebencian itu sudah mulai runtuh.
Tinggal kita yang di akar rumput: apakah akan terus menyiram api fitnah, ataukah ikut menanam pohon persaudaraan seperti yang diikhtiarkan oleh kedua imam besar ini?
Sebab pada akhirnya, di hadapan Allah, kita tidak ditanya tentang seberapa fasih kita mencaci lawan bicara, melainkan seberapa gigih kita menjaga keutuhan umat Muhammad Saw. Wallahu’alam bisahwab. ***



