Taksu Denada, Lagu “Kujelang Hari” dan “Sambutlah”

Ketika mendengar nama Denada yang terbayang adalah penyanyi yang enerjik, jingkrak sana jingkrak sini. Saya adalah homo sapiens yang amat terhibur ketika lagu itu mulai meledak dan tenar pada 1994. Tepat saat saya usai SMA. Jadi lagu itulah yang menemani masa remaja dan kuliah saya, lagu yang ikut membentuk selera atas aliran musik tertentu menjadi enak didengar dan diterima telinga saya.

Lagu itu adalah lagu yang menebar optimisme. Usai bangun tidur rencana apa yang bisa dilakukan. Sudah itu saja. Saya tidak mau mengait-ngaitkan prestasi musikal Denada dengan sisi lain. Biarkan media massa yang merujak karena salah satu tugas media massa memang mengemas sensasi.

Sampai ketika tahu bahwa Denada adalah anak dari almarhumah penyanyi Emilia Contessa, saya tidak peduli. Yang pasti pesona Denada adalah pesona penyanyi yang mandiri yang di mata saya punya kekhasan pada kemunculannya di era 1994 itu.

Bersamaan dengan terkenalnya lagu Kujelang Hari, lagu Sambutlah juga ikut melejit. Lagu ini juga menyenangkan telinga, isinya tentang kerinduan seseorang pada kehadiran kekasih. Jadi, kalau karya seni yang bagus itu tanpa pertimbangan teori apa pun yang penting langsung menyergap selera, maka dua lagu Denada itu sudah memenuhi kategori itu.

Meskipun saya pernah menempuh studi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, namun soal terminologi karya seni yang bagus, bagi saya cukuplah sederhana, yaitu greget. Orang Bali menyebutnya taksu.

Nah dua lagu Denada itu bagi saya greget atau taksu yang dipancarkan sudah lebih dari cukup. Sangat bagus. Mampu memacu semangat kelelakian dan semangat hidup yang pantang mundur. Kalau bangun pagi dengar lagu Kujelang Hari maka jam kuliah yang mau ditempuh terasa ringan, meskipun dosennya belum tentu saya sukai. Hahaha.

Begitulah. Saya sendiri tidak habis pikir kenapa karya seni bisa menjadikan manusia bahagia meskipun kenyataan hidup yang sedang menimpanya belum tentu bahagia! Tapi, sudahlah tidak perlu dicari-cari yang penting Denada sudah memberikan sumbangan yang terbaik bagi dunia seni.

Lagunya banyak yang menggemari dan seandainya boleh saya memekikkan histeria, saya adalah orang yang secara jujur akan ikut memekikkan histeria! Eforia! Eureka!

“Aku telah menemukannya!” Kayak orang Yunani Kuno saja teriak begitu!

***  

Di awal tulisan saya sempat menyebut bahwa salah satu tugas media adalah mengemas sensasi. Jika kini artis seperti Denada seperti sedang dirujak media karena kasus tertentu yang menimpa dirinya, yaitu soal penelantaran anak, saya memang memilih tidak berkomentar.

Saya memilih menempatkan Denada dalam skandal memori ingatan yang sangat personal dan bernilai spesial dalam imajinasi saya sendiri. Saya tidak rela menempatkan dirinya selain dalam koridor itu. Karena Denada juga sudah tidak lagi remaja, tidak lagi muda, sebagaimana saat ia mengantar dua lagu itu menjadi tenar.

Denada kini sudah menjadi orang tua yang tidak perlu lagi diberitahu soal batasan norma. Tapi, konsumen media massa tentu membutuhkan sosok Denada lebih dari sekadar sebagai artis. Ia juga harus mampu memenuhi selera gosip yang renyah diperbincangkan di media massa dan diperpanjang hingga media sosial.

Selamat menikmati semuanya itu, Denada. Para homo sapiens kontemporer memang selalu rindu dengan yang serba gosip untuk sekadar menghibur dirinya sendiri, yang bisa mempunyai masalah melebihi Denada.

Sebuah kamuflase perasaan saja! ***

Penulis adalah jurnalis dan sastrawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *