Saudaraku, sehari pasca-Lebaran. Senyap menggerayangi pori-pori. Kicau burung menyisakan suara alam yang nyaring terdengar.
Di bawah iringan nyanyian semesta, kukhidmati jeda yang hening —merapikan rumah sendiri, tanpa hiruk tangan-tangan yang biasa membantu.
Ada khidmat dalam kesederhanaan, ada makna dalam kembali mengurus yang dekat.
Semua kembali ke titik kosong. Titik perjumpaan masa lalu dan masa depan dalam aliran darah masa kini.
Masa kita menyusun ulang sejarah tanpa silam dendam, tanpa prasangka. Masa manusia mulai mengenali semesta dengan mengeja alfa, alif.
Aku ingin mulai melukis sejarah baru dengan melancong, merapatkan simpul keluarga dengan petualangan bersama; mengenali kedirian dari dunia seberang.
Namun, tubuh yang rapuh membatasi langkah dan arah, menjadikan perjalanan itu sekadar lanskap yang hidup dalam angan.
Betapapun, masih terbayang sisi gelap dalam jendela johari (Johari Window).
Di sana ada sisi diri yang asing bagi diri sendiri—kita bisa tak sungguh mengenal diri, bisa terlampau memuji, atau justru mengutuknya.
Melintasi batas diri, menyapa dunia dan sudut pandang yang berbeda, adalah cara merengkuh kepingan-kepingan yang belum utuh kita pahami.
Kita harus bertebaran di muka bumi, mengenali keragaman perbedaan peradaban. Dengan mensyukuri karunia milik kita, dan belajar kelebihan pihak lain, kita bisa saling mengarifkan, saling menyempurnakan.
Merayakan kehidupan bersama dengan pukau misteri, gairah perjumpaan, dan debar harapan.
Maka rasakanlah: setiap detik yang mengalir, setiap detak yang berdenyut —karena di sanalah kehidupan senantiasa lahir kembali.



