Saudaraku, belum pernah aku merasa sedemikian rendah dalam lengkung waktu seperti hari-hari ini—seakan langkah ini tiba di dasar lembah yang paling sunyi, titik nadir tempat cahaya harapan menipis seperti senja yang hampir tenggelam di ufuk barat.
Sebagai warga dunia, aku menyaksikan langit peradaban melegam. Tatanan yang dahulu dijanjikan sebagai rumah bersama kini retak di tangan para pembuli dan perampas, yang mengukur marwah dengan kekuatan, dan menganggap belas kasih sebagai kelemahan.
Sebagai warga negara, aku kecewa melihat tata kelola pemerintahan yang kian amburadul. Sikap dan kebijakan lahir tergesa, blunder demi blunder berulang, seakan kemudi negeri diputar tanpa arah.
Sebagai pribadi, aku pun diuji oleh batas tubuh sendiri. Rencana-rencana yang dulu berlari di kepalaku kini tertatih menunggu tenaga yang kian rapuh. Gagasan masih menyala, tetapi daya tak selalu menyertai.
Bahkan sebagai pencari penghiburan, aku ikut merasakan kehilangan. Permainan Manchester City yang dulu memantik kegembiraan kini terasa hambar, tak memperlihatkan determinasi dan daya pukau.
Lebih dari itu, yang runtuh adalah kepercayaan.Tak ada lagi kebanggaan pada dunia pendidikan ketika muruah keilmuan terbeli. Tak ada lagi kebanggaan pada organisasi keagamaan ketika kesucian ajaran tercemar.
Tak ada lagi kebanggaan pada dunia usaha ketika pertumbuhan diraih dengan merusak alam dan menyengsarakan rakyat.
Tak ada lagi kebanggaan pada dunia politik ketika kekuasaan dicengkeram dinasti dan oligarki. Tak ada lagi kebanggaan pada negara hukum ketika penegaknya menjadi pagar yang memakan tanaman.
Ya Tuhan, selamatkan kami. Jadikan yang tak mungkin menjadi mungkin. Tuntunlah kami ke jalan cahaya.
Lautan negeri ini luas dan ombaknya ganas menerjang. Bahtera kami oleng, penumpangnya mabuk kepayang, sebagian lain panik tunggang langgang. Sedangkan nahkoda dan awak kapal limbung alpa menuntun prosedur penyelamatan.
Atas berkat rahmat-Mu bangsa ini berulang kali lolos dari kemelut sejarah. Kali ini pun, setelah ikhtiar segala cara dicoba, kami tawakal meyakini-Mu juru selamat. Kepada-Mu kami berserah diri, dan kepada-Mu kami memohon pertolongan. Amin! (*)



