Imaji tentang perang melekat di benak banyak orang. Orang boleh berbeda pendapat tentang aqidah terutama menyangkut Iran, tapi mayoritas sepakat posisinya terkait sikap perlawanannya pada Amerika.
Gambaran tentang perang, baik riil maupun hoaks, bisa dengan mudah diikuti sejak hampir sebulan perang berkecamuk di kawasan Teluk Persia. Namun tak seorang pun dari jamaah umrah, yang difasilitasi Dewangga Jogja, yang membicarakannya.
Niat sudah bulat, tekad sudah utuh, untuk menunaikan ibadah yang diteladankan Nabi Muhammad SAW. Meski jadwal keberangkatan tanggal 21-23 Maret 2026 terpaksa ditunda, kelompok 24 Maret 2026 bisa terbang sesuai rencana.
Narasi perang disampaikan pertama oleh Setya Brata. Lelaki sepuh alumni UII 1978 ini, mendadak membuka pembicaraan begitu saya tanya asal-usulnya. Tinggal di Sapen Manisrenggo, mengantarkan diskusi pada revolusi kemerdekaan. Eyangnya, Yoso Sumarto, adalah sosok yang melayani AH Nasution saat bermarkas di Markas Besar Komando Djawa (MBKD) Kepurun.
Yogyakarta sebagai ibukota lumpuh akibat diserang Belanda 18 Desember 1948. MBKD gerilya, dan Nasution yang tengah perjalanan dari Solo, berhenti di Stasiun Srowot. Strategi dipikirkan dan diarahkan ke utara Prambanan. Di situlah Nasution bermarkas di rumah Yoso beberapa saat.
Narasi kedua disampaikan Ustaz Fathoni Fikri. Anak muda asal Jawa Timur yang kuliah di Al Azhar ini bertindak sebagai tour leader selama di Madinah. Dalam city tour ke Jabal Uhud, Fathoni mengisahkan meletusnya Perang Uhud.
Yang menarik, salah satu penyebab kekalahan kaum muslim adalah ketidakpatuhan pasukan pemanah di bukit atas perintah Nabi untuk tidak meninggalkan pos. Mereka justru berebut ghanimah atau rampasan perang. Kelengahan ini dimanfaatkan musuh yang dipimpin Khalid bin Walid.
Perang selalu terkait persoalan kedisiplinan, kepatuhan, dan harga diri. Bagi jutaan muslim yang datang secara bergelombang datang dan berziarah ke Madinah dan Mekah adalah perang melawan diri sendiri. Menaklukkan nafsu diri adalah agenda terberat. Itulah kenapa setiap muslim diperintahkan ibadah puasa. Juga selama umrah, apakah setia mengikuti sunah nabi atau ada motivasi lain, akan menentukan kualitas ibadah.
Dunia sedang di ambang kehancuran. Dan itu antara lain karena kegagalan manusia dalam mengendalikan nafsu dalam diri. Menumpuk kekayaan untuk tujuh turunan sambil menegasikan hak orang lain adalah tanda-tanda kehancuran.
Jika harga diri seorang muslim tak lagi dijaga, sebagai segelintir pasukan pemanah, maka kekalahan demi kekalahan akan jadi pemandangan harian. Bukankah kekayaan alam negara-negara muslim tak lagi menjadi milik generasi penerusnya? Wallahualam.
Madinah, 26 Maret 2026



