Mabur.co- Selama bulan Ramadan, berbagai hidangan dengan kadar gula tinggi kerap kali mendominasi meja makan sebagai pelepas lapar dan dahaga setelah seharian berpuasa.
Kondisi tubuh yang tidak mendapatkan asupan selama 12-14 jam memang membuat kadar gula darah menurun, sehingga otak mengirimkan sinyal kuat dalam mode survival untuk mencari sumber energi secara cepat.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Sub Endokrin Metabolik RSA UGM, dr. Ali Baswedan, Sp. PD, KEM-D, menjelaskan bahwa konsumsi makanan dan minuman manis saat berbuka sebenarnya tidak sepenuhnya keliru, namun perlu diingat bahwa kuantitas dan jumlah hidangan juga berpengaruh terhadap tubuh.
“Perlu diperhatikan bahwa, gula darah meningkat sangat cepat dan kemudian turun lagi dengan cepat. Akibatnya, tubuh menjadi gampang lelah dan cepat lapar kembali,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).
Ali menuturkan, durasi rasa kenyang yang singkat disebabkan oleh lonjakan gula darah dari asupan makanan dengan Indeks Glikemik (IG) yang tinggi.
Indeks Glikemik (IG) adalah pengelompokan makanan berdasarkan durasi seberapa cepat karbohidrat dicerna dan meningkatkan gula darah.
“Makanan dengan Indeks Glikemik (IG) tinggi seperti nasi putih, roti, dan minuman berpemanis cenderung memicu lonjakan insulin secara mendadak,” ucapnya.
Ali menerangkan, konsumsi nasi dengan porsi banyak saat berbuka, tubuh akan merespons dengan mengeluarkan hormon insulin dalam kadar yang tinggi.
“Prinsipnya adalah porsi nasi tidak berlebihan dan wajib dikombinasikan dengan lauk berprotein dan sayur yang berserat. Tujuannya, agar penyerapan jenis gula dari nasi lebih stabil karena sayur berfungsi sebagai pembatas penyerapan gula di dalam pencernaan,” jelasnya.
Ali menjelaskan bahwa bulan Ramadan adalah kesempatan “emas” untuk memperbaiki pola makan, baik bagi penderita diabetes maupun masyarakat umum.
Ia berpesan agar masyarakat tidak berlebihan dalam mengonsumsi gula dan mengutamakan keseimbangan menu antara karbohidrat kompleks, protein, sayur, dan buah.
Dengan pola menu makan yang tepat, manfaat rohani dan kesehatan fisik pun dapat diraih secara bersamaan hingga hari kemenangan tiba.
“Jika pola makan saat buka dan sahur dijaga dengan benar, puasa bukan sekadar ibadah, tetapi juga dapat meningkatkan kesehatan tubuh dengan menjaga stabilitas berat badan, mengontrol gula darah, dan kadar kolesterol,” katanya. ***



