Klitih, Lahir dari Pergolakan Sosial Politik

Mabur.co– Dalam bahasa Jawa, klitih adalah aktivitas mencari angin di luar rumah atau keluyuran yang dilakukan remaja Yogyakarta.

Pemaknaan klitih menjadi aksi kekerasan remaja yang sangat mengganggu dan membahayakan. Untuk mengatasinya pun, pendekatan secara kekeluargaan perlu dilakukan.

Jika dilihat dari sejarahnya, klitih ini lahir karena pergolakan sosial politik yang terjadi sejak zaman Orde Baru. 

Permasalahan atau motif klitih kini amat beragam dan yang mengerikannya lagi, kini korban mereka bisa jadi sangat random. Namun yang paling sering adalah akibat permusuhan antar-geng.

Mungkin beberapa orang menganggap aksi klitih merupakan kekonyolan semata. Namun, aksi ini bukan sesuatu yang bisa dibiarkan begitu saja.

Sebab aksi ini tak hanya membahayakan orang lain, tetapi juga membahayakan para remaja itu sendiri. 

Sosiolog kriminal UGM, Drs. Soeprapto, S.U., mengatakan, terdapat permasalahan yang kompleks di balik tindak perilaku klitih tersebut.

Hal ini dimulai dari persoalan telah terciptanya organisasi terstruktur, doktrinasi para alumni yang mewariskan permusuhan, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, untuk menyelesaikannya maka diperlukan upaya sistematis dan terintegrasi. Soeprapto berharap semua pihak harus turut andil dalam pengentasannya.

“Saya mengharapkan bahwa penanganan ini jangan hanya dibebankan pada aparat keamanan atau pemerintah. Tapi mari lakukan secara sistemik, yakni melingkupi lembaga keluarga, lembaga pendidikan, lembaga agama, lembaga pemerintah, dan termasuk masyarakat,” tuturnya, saat diwawancarai mabur.co via telepon, Rabu (11/2/2026).

Soeprapto mengatakan, lembaga keluarga merupakan lembaga awal dan mendasar bagi setiap orang.

Oleh karena itu, jika lembaga keluarga tersebut tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, yakni terkait fungsi sosialisasi, perlindungan, afeksi, dan lain sebagainya, maka upaya pengentasan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga di luar keluarga akan terancam percuma.

“Ada banyak hal yang bisa dilakukan keluarga untuk mencegah terjadinya klitih,” katanya.

Soeprapto menjelaskan bahwa tindak perilaku klitih rata-rata terjadi lepas tengah malam.

“Keluarga pada waktu-waktu tersebut sebaiknya peka terhadap keberadaan  anggota keluarganya, apakah yang bersangkutan ada di rumah atau tidak dan lain sebagainya,” ucapnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *