Upaya untuk memantau dan mewaspadai tren penyakit menular potensial kejadian luar biasa dengan memanfaatkan teknologi aplikasi sangat ditentukan kualitas manusianya.
Kompetensi dan totalitas pengabdian menjadi prasyarat utama jika ingin deteksi dini bisa optimal.
Demikian disampaikan Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo, Wahjudi Djaja, SS, M.Pd, saat menjadi narasumber dalam Bimbingan Teknis Pengendalian Wabah serta penguatan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinas Kesehatan Sleman.
Bimtek digelar Rabu (11/2/2027) pagi di Gedung Dekranasda Sleman. Hadir ratusan peserta dari jajaran Dinas Kesehatan Sleman, Puskesmas dan rumah sakit se-Kabupaten Sleman.
Lebih jauh disampaikan, keteladanan dan sikap kepahlawanan dalam hidup harus dijadikan landasan pengabdian.
“Sejarah revolusi kemerdekaan kaya dengan kisah heroik kemanusiaan. Seorang perawat perempuan yang dipandang lemah bisa menjadi dewi penyelamat bagi laskar dan rakyat. Itu karena tingginya kesadaran atas peran yang disandang dan totalitas dalam pengabdian,” tandas Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama) ini.
Terkait manajemen SKDR, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY ini menyajikan tiga karakter dasar yang harus dimiliki petugas.
“Miliki kewaspadaan yang tinggi, cepat dalam merespons, dan sistematis dalam bekerja. Selama ketiga karakter melekat dalam diri petugas maka bencana bisa diantisipasi sejak dini dan masyarakat bisa diselamatkan,” tandasnya.
Sementara itu, Agustin Diana Sari dari Dinkes Sleman menyampaikan, bimtek digelar sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas petugas kesehatan.
“Harapan kami ini bisa mendukung deteksi dini dan respons cepat terhadap potensi KLB dan wabah penyakit di Kabupaten Sleman,” pungkasnya. ***



