Pameran Tunggal L.K. Bing dan Koleksi OHD Museum Digelar Enam Bulan - Mabur.co

Pameran Tunggal L.K. Bing dan Koleksi OHD Museum Digelar Enam Bulan

OHD Museum Magelang berinisiatif mengejutkan dengan menggelar pameran seni rupa selama enam bulan.

Dalam rilis yang diterima mabur.co, Kamis (12/3/2026) dijelaskan, pameran bertajuk “Cityscape-Mindscape” tersebut digelar di OHD Museum, Magelang, pada 14 Maret – 14 September 2026.

Poster pameran (Sumber: Istimewa)

Karya yang dihelat adalah pameran tunggal seni rupa karya L.K. Bing. Dalam kesempatan yang sama karya-karya L.K. Bing didampingi dengan 10 karya seni old master koleksi OHD Museum atau koleksi pribadi dr. Oei Hong Djien.

Pameran tersebut dibuka pada hari Sabtu, 14 Maret 2026 pukul 16.00 WIB berlangsung hingga 14 September 2026. Pembuka pameran adalah Komjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si, seorang perwira polisi berbintang tiga yang mempunyai hobi melukis.
 
Menurut Kuss Indarto selaku kurator pameran, pihak OHD Museum memang berani menampilkan ratusan karya seniman yang relatif belum dikenal dalam peta seni rupa Indonesia.

Bahkan untuk scope yang lebih kecil, yakni kota Surabaya, nama L.K. Bing belum banyak dikenal oleh publik seni.

Namun dr. Oei Hong Djien berdalih bahwa justru inilah salah satu tugas sebuah museum, yakni memperkenalkan seniman yang belum dikenal luas namun memilki karya yang berkualitas tinggi.
 
“Kalau museum memamerkan karya para seniman terkenal atau maestro yang masyhur itu sudah biasa. Sudah lazim dan relatif tidak banyak tentangannya. Tetapi bila menampilkan karya seniman yang belum banyak dikenal namun kualitas karyanya bagus, ini baru museum yang baik dan berintegritas terhadap visi misi museum ke depan,” tutur dr. Oei Hong Djien.
 
Diketahui, L.K. Bing sendiri adalah sosok arsitek sekaligus seniman yang berproses di Surabaya. Dia lahir tahun 1972 dan meninggal pada 30 April 2025.

Dia meninggalkan karya seni yang jumlahnya relatif banyak hingga mengagetkan keluarga dan komunitasnya.

Dalam pameran tunggal ini pihak keluarga menyodorkan sekitar 264 karya lukis yang siap dan layak untuk dipamerkan. Namun setelah melewati proses kurasi dan mempertimbangkan keterbatasan ruang, maka karya yang dipamerkan sekitar 226 karya.

Ini terdiri dari lukisan cat air di atas kertas dan karya lukis dengan materi cat akrilik di atas kanvas. Sementara karakter karya yang disajikan ada dua, yakni lukisan yang cenderung realistik dan lukisan yang bercorak abstrak.

Sebagai seniman, pada praktiknya Bing memang cukup sering hilir-mudik melukis antara corak realis dan abstrak.
 
Sebagai arsitek juga dosen serta seniman, Bing dikenal memiliki komunitas yang mendukung kegemarannya dalam bersenirupa itu, yakni Surabaya Urban Sketcher.

Komunitas ini dibentuknya sekitar tahun 2013 dan berlanjut hingga sebelum dia meninggal dunia. Lewat komunitas itulah kemudian sosok L.K Bing ini menemukan gairah kreatif sekaligus pencapaiannya.

Dia menjadi brand ambassador untuk brand cat air mewah level dunia, yakni merk Daniel Smith. Brand cat air tersebut hanya memiliki kurang dari 100 orang brand ambassador di seluruh dunia. Di Indonesia hanya ada dua orang, yakni Agus Budiyanto dan L.K. Bing.
 
Bing terpilih sebagai brand ambassador karena kualitas karyanya yang mumpuni. Dan dengan pencapaiannya sebagai sebagai brand ambassador inilah dia bisa difasilitasi untuk berkeliling dunia.

Tiap tahun minimal sekali dia berangkat ke mancanegara untuk berkarya sekaligus menjadi mentor bagi para seniman seni lukis cat air.
 
Lebih jauh Kuss Indarto menjelaskan, titik menarik dari karya L.K. Bing, terutama yang bermaterial cat air, adalah kemampuannya untuk menguasai karakter bahan cat air dengan piawai.

“Pada banyak karya Bing bisa dengan canggih membuat gradasi warna yang lembut yang tidak mudah dilakukan dengan cat air. Juga mampu dengan baik memberi kesan dan efek cahaya atau volume pada karyanya meski dibuat dengan corak realis ekspresif,” ujar Kuss Indarto.
 
Kuss Indarto juga mengungkapkan, bahwa Bing mampu secara konsisten fokus untuk membidik lanskap atau pemandangan kota sebagai subject matter pada karya-karyanya.

Kota tidak sekadar ditatap dan kemudian dipindahkan di atas kertas dengan cat air. Namun ada narasi, ada pola pengisahan yang menjadikan karya-karya tersebut sebagai deretan mindscape yang dirancang dalam pikiran sebelumnya.

Karya Bing bukan sekadar realitas pemandangan biasa, namun ada sistem pengetahuan yang mendasari karya-karya rupa tersebut.

Tak heran bila karyanya yang bertema kota Surabaya, misalnya, dia lukis dalam banyak perspektif, termasuk perspektif waktu.

Ada pemandangan sebuah sudut kota Surabaya berdasarkan studi lapangan secara on the spot, ada pula yang digali berdasarkan foto masa lalu, dan dilukis ulang.
 
Kemudian, di samping karya Bing, OHD Museum juga mengetengahkan karya-karya lukis old masters.

Bagi dr. Oei Hong Djien, pameran ini juga dihasratkan sebagai upaya untuk mengingatkan kembali karya-karya maestro masa lalu yang kadang diabaikan oleh publik, khususnya generasi muda dalam komunitas seni.

“Karya-karya tersebut mengingatkan bahwa dalam lintasan sejarah seni rupa modern Indonesia ada banyak nama seniman dengan pencapaian artistik karya yang relatif mumpuni dari zaman ke zaman. Dengan demikian pameran ini memiliki fungsi literatif dan edukatif bagi masyarakat umum,” pungkasnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *