Mabur.co– Mendapatkan pendidikan sosial, moral maupun agama merupakan hak semua orang tanpa terkecuali.
Hal tersebut yang menjadi salah satu urgensi terbesar terbentuknya Pondok Pesantren Darul Ashom.
Sebuah Pondok Pesantren Tuna Rungu pertama di Indonesia yang berada di Sidomoyo, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman.
Meski banyak santri sedang di depan Alquran, suasana di Ponpes Darul Ashom tetap sunyi.
Karena mayoritas santri lebih menggunakan tangan sebagai penanda gerak. Ya itulah aktivitas keseharian di ponpes tuna rungu tersebut.
Bibir mereka tidak bergerak, tak ada suara yang keluar. Semuanya dalam sunyi yang khusyuk.
Di sini, ayat-ayat suci tidak bergema di langit-langit ruangan melainkan menari di ujung jari.
Pendiri Ponpes Darul Ashom, Ustaz Abu Kahfi menuturkan, berinisiatif mendirikan ponpes tuna rungu karena perjalanan yang dilaluinya dengan banyak bertemu teman-teman Tuna Rungu.
Sekitar 2009, bertemu salah seorang tuna rungu yang secara konteks ingin belajar mengenai agama. Namun tidak cukup punya aksesibilitas karena kondisinya.
“Sejak itu saya mulai membantunya belajar tentang agama dan saya juga belajar bahasa isyarat untuk komunikasi,” jelasnya, Minggu (22/2/2026).
Sebelum akhirnya mendirikan Ponpes Darul Ashom, dirinya mengajari ilmu dan pendidikan agama pada teman-teman tuna rungu selama hampir sepuluh tahun lamanya.
Jumlahnya pun semakin bertambah banyak. Mereka memiliki semangat besar untuk belajar.
“Saya mengajar mereka itu di Bandung, karena saya memang aslinya orang Bandung,” tandasnya.
Ponpes Darul Ashom berdiri pada 2019. Awal berdirinya ponpes berada di wilayah Bantul.
Namun pada 2021 pindah di area Kayen karena jumlah santri yang terus bertambah.
Saat ini setidaknya tercatat ada 129 santri yang ada di Ponpes Darul Ashom dengan klasifikasi 40 orang santri perempuan dan 89 orang santri laki-laki.
Sementara, Ponpes Darul Ashom memiliki 12 pengajar yang semuanya memiliki kecakapan dalam penggunaan bahasa isyarat.
Dalam pelaksanaan kegiatan dan proses belajar, para santri dikategorikan menjadi empat kategori kelas. Yaitu kelas Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.
“Kami mengkategorikan itu bukan berdasarkan usia, namun berdasarkan kemampuan mereka dalam mempelajari materi yang kami rancang, santri kami sendiri tercatat berusia mulai dari 7 hingga 20 tahun,” terangnya.
Santri Ponpes Darul Ashom sendiri banyak yang datang dari luar Jawa seperti dari Medan, Aceh, Palu hingga Kalimantan.
Diakui Abu, ke depan diharapkan Ponpes Darul Ashom bisa memiliki bangunan sendiri yang terpusat.
Karena saat ini, dirinya masih menyewa tempat dan tempatnya juga dibagi-bagi.
“Ada tujuh rumah yang saat ini kami gunakan baik untuk berkegiatan atau tempat inap para santri,” ucapnya.
Ahmad menjadi salah satu bukti hidup bahwa meski pendengaran ditangguhkan, cahaya Alquran tetap mampu merasuk hingga ke relung jiwa.
Di sekelilingnya, para santri lain dengan balutan baju putih bersih larut dalam ritme yang sama.
Sebuah harmoni tercipta di tengah kesunyian yang terasa magis.
Ia datang dari Bali tanpa bekal pelajaran agama. Sebelum masuk pesantren, Ahmad mengaku tak pernah benar-benar belajar tentang Islam. Namun di tempat itulah ia menemukan pintu yang selama ini tertutup.
“Enggak pernah, dulu nggak pernah belajar agama,” kata Ahmad melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh Pendiri sekaligus Pimpinan Ponpes Tunarungu Darul Ashom, Ustaz Abu Kahfi. ***



