Mabur.co– Video seorang penjual es gabus di Kemayoran, Jakarta Pusat, yaitu Suderajat (49) yang dituduh menjual es berbahan spons viral di media sosial.
Tidak sedikit netizen yang geram dengan tindakan anggota Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Kelurahan Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat, Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu), Ikhwan Mulyadi, bersama oknum TNI bernama Heri.
Oknum aparat tersebut kemudian membakar es kue di tangannya. Namun, saat dibakar, es kue tersebut terlihat meleleh. Suderajat mengaku peristiwa itu terjadi pada Sabtu (24/1/2026).
Awalnya, Suderajat mengaku dihampiri sekitar lima orang. Sekelompok orang tersebut mempertanyakan asal usul dan bahan es kue yang dijual.
Penjual es gabus bernama Suderajat ternyata menjadi korban tuduhan aparat yang menyebut barang dagangannya menggunakan spons. Kejadian itu ada di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat.
Peristiwa ini bermula dari keseharian Suderajat yang berangkat bekerja dari rumah sekitar pukul 04.00 WIB untuk mengambil 150 buah es gabus di pabrik rumahan daerah Depok Lama.
Sehari-hari ia berangkat sekitar pukul 05.00 WIB dari Stasiun Depok menuju Kemayoran, Jakarta Pusat, dan berjualan di sekitar sekolah dekat Gang Sentiong.
Sekitar pukul 10.00 WIB, sebanyak empat sampai lima orang datang menghampirinya dengan alibi ingin membeli es gabus. Pengurus lingkungan, polisi, dan tentara mendatanginya.
Arief Wien, pegiat Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Sleman, Yogyakarta, menanggapi pemberitaan tersebut.
Arief mengatakan, kejadian tersebut sangat disayangkan sekali. Warga harus memahami hal yang penting dalam konteks, sebelum memberikan tindakan atau memberikan sanksi tanpa pengetahuan.
“Masyarakat dan netizen pun tidak respek dalam kejadian ini,” ujarnya saat diwawancarai mabur.co via whatsapp, Rabu (28/1/2026).
Arief menjelaskan, kasus ini mengingatkan pentingnya menjaga solidaritas sosial. Hindari vonis cepat tanpa mendengar kedua belah pihak. Apalagi hanya asumsi dan praduga.
“Kita harus cek segalanya agar tidak terjadi kesalahpahaman. Tentunya dari kasus ini empati datang pada pedagang kecil yang menjadi korban, bukan hanya kritik,” ucapnya. ***



