Mabur.co– Ketua Tim Kerja Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Solikhin Dwi Ramtana, menuturkan, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta memastikan hingga saat ini belum menemukan kasus virus Nipah.
Meski demikian, masyarakat diminta untuk tetap waspada karena virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, dengan kelelawar buah sebagai reservoir utama.

Secara geografis Indonesia berdekatan dengan sejumlah negara yang pernah melaporkan kasus virus Nipah, seperti Malaysia, Filipina, Bangladesh, dan India.
Kasus pertama Nipah tercatat terjadi di Malaysia pada 1998–1999.
“Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada reservoir alami kelelawar buah (Pteropus sp),” ujarnya, saat ditemui mabur.co, Jumat (6/2/2026).
Solikhin Dwi menjelaskan, kewaspadaan perlu ditingkatkan, terutama terkait keberadaan reservoir alami dan mobilitas penduduk dari wilayah yang pernah mengalami kejadian luar biasa (KLB) virus Nipah.
Untuk itu, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta memperkuat surveilans kesehatan, khususnya pemantauan gejala klinis yang mengarah pada infeksi Nipah.
Surveilans tersebut meliputi pemantauan Influenza Like Illness (ILI), ISPA akut, serta Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) di seluruh puskesmas.
Hingga saat ini, ditegaskan bahwa tidak ditemukan tren peningkatan kasus yang mengarah pada Nipah.
“Memang sempat ada kenaikan kasus ISPA saat isu ‘super flu’ akhir tahun lalu, tetapi tidak signifikan dan tidak mengarah ke Nipah,” ujarnya.
Solikhin Dwi menuturkan, gejala klinis virus Nipah umumnya diawali dengan demam tinggi akut, kemudian dapat berkembang menjadi gangguan saraf.
Seperti penurunan kesadaran dan kejang. Virus ini juga dapat menyerang otak dan memiliki tingkat fatalitas yang sangat tinggi, yakni berkisar antara 40 hingga 75 persen.
“Gejala yang mengarah ke penyakit Nipah, teman-teman di puskesmas sudah kami minta untuk waspada dan segera melakukan pelaporan bila menemukan gejala yang mencurigakan,” katanya.
Solikhin Dwi mengatakan juga, penularan virus Nipah dapat terjadi dari hewan ke manusia, maupun dari manusia ke manusia.
Untuk itu, upaya pencegahan, masyarakat diimbau agar mencuci buah dengan bersih sebelum dikonsumsi, serta tidak mengonsumsi buah yang sudah rusak atau bekas gigitan hewan.
Selain itu, nira atau air sadapan kelapa sebaiknya dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi untuk menghindari potensi kontaminasi.
“Jika buah atau nira diduga terkontaminasi, sebaiknya tidak dikonsumsi. Daging ternak juga harus dimasak hingga matang dan hindari mengonsumsi hewan yang dicurigai terinfeksi,” katanya. ***



