Mabur.co – Iran dilaporkan mengizinkan puluhan kapal asal sejumlah negara melintasi Selat Hormuz.
Sejumlah kapal itu antara lain berasal dari Cina, Rusia, Pakistan, Irak, India, Thailand hingga Sri Lanka.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan, akses terhadap sejumlah kapal tersebut diberikan kepada negara-negara ‘sahabat’.
Namun hingga kini belum ada kapal Indonesia yang dilaporkan bisa melintas.
Dikutip dari BBC, Kamis (26/3/2026), Abbas Araghchi kembali menegaskan, bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup total.
Iran tetap mengizinkan sejumlah kapal untuk melintas, kecuali kapal yang dianggap musuh.
“Banyak pemilik kapal, atau negara pemilik kapal-kapal tersebut, telah menghubungi kami dan meminta agar kami memastikan keselamatan pelayaran mereka melalui selat,” ujar Araghchi.
“Untuk sejumlah negara yang kami anggap bersahabat, atau dalam kasus tertentu yang kami nilai perlu, angkatan bersenjata kami telah memberikan pengawalan secara aman,” tambahnya.
Diberikannya akses sejumlah kapal tersebut, diketahui dilakukan setelah negara asal kapal menghubungi otoritas Iran untuk melakukan koordinasi serta perlindungan melewati Selat Hormuz.
“Seperti yang Anda lihat dalam pemberitaan: Cina, Rusia, Pakistan, Irak, dan India. Dua kapal India melintas beberapa malam lalu, begitu pula dari negara lain, bahkan Bangladesh. Negara-negara ini berbicara dan berkoordinasi dengan kami, dan hal ini akan terus berlanjut di masa depan bahkan setelah perang berakhir,” imbuhnya.
Sepanjang bulan ini, BBC mengutip data pelayaran Kpler serta data Joint Maritime Information Centre, menyebut hanya sekitar 99 kapal melintasi selat Hormuz.
Jumlah ini menurun drastis dibanding periode sebelum perang yang mencapai sebanyak 138 kapal per hari.
Dari 99 kapal yang diizinkan melintas selat Hormuz, mayoritas diketahui berasal dari negara yang selama ini membeli minyak Iran. Baik itu kapal milik perusahaan Cina, India hingga Pakistan.
Data pelacakan bahkan menunjukkan sebuah kapal tanker berbendera Pakistan menunjukkan kapal itu berlayar lebih dekat ke pantai Iran dibanding harus menempuh jalur umum yang berada di bagian tengah selat.
Sebuah kapal tanker minyak Thailand dilaporkan juga telah berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Pemerintah Thailand sendiri sebelumnya dilaporkan telah melakukan koordinasi diplomatik dengan Iran.
Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, mengatakan, kapal tanker milik Bangchak Corporation telah melintasi Selat Hormuz pada Senin (23/03).
Izin tersebut muncul setelah dirinya diketahui melobi pembicaraan dengan Duta Besar Iran untuk Thailand, Nasereddin Heydari.
“Saya meminta apakah kapal-kapal Thailand yang perlu melewati selat dapat dibantu untuk memastikan pelayaran yang aman,” kata Sihasak.
“Mereka menjawab bahwa mereka akan mengurusnya dan meminta kami menyampaikan daftar kapal yang akan melintas,” sambungnya.
Sementara itu, meski kapal sejumlah negara telah diizinkan melitas, Menlu Iran tetap melarang kapal ‘musuh’ seperti milik Israel maupun AS beserta negara-negara Arab dan Timur Tengah, melintasi selat Hormuz.
“Kami berada dalam keadaan perang. Kawasan ini adalah zona perang, dan tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal-kapal milik musuh serta sekutu mereka melintas. Namun selat tetap terbuka bagi pihak lainnya,” ujarnya.
Sementara itu, kapal milik Indonesia hingga hari ini sudah bisa berjalan normal. Sebelumnya diketahui masih tertahan di Teluk Arab dan belum dapat melewati Selat Hormuz.
Keduanya adalah PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro. ***



