Mabur.co- Museum Monumen Ngoto menjadi lambang perjuangan TNI AU yang gugur dalam tugas akibat kecelakaan besar dan tragedi pada masa pasca-kemerdekaan. Monumen ini dibangun di lokasi jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA di Bantul, Yogyakarta.
Ornamen pada monumen tersebut mencantumkan nama-nama korban kecelakaan dan dilengkapi dengan simbol burung garuda. Rancangannya dibuat secara detail dan mengandung makna khusus.
Museum Monumen Ngoto berada di Pasar Bantul, tepatnya di Jl. Imogiri Barat, Ngoto, Bangunharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul.
Pada masa Revolusi Nasional Indonesia (1945-1949), situasi keamanan di Indonesia sangat tidak stabil karena Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia dengan melancarkan berbagai agresi militer. Dalam kondisi yang penuh dengan ketegangan ini, Adi Sucipto terus aktif melakukan operasi penerbangan untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Pada tanggal 29 Juli 1947, Adi Sucipto sedang menjalankan misi penerbangan dari Maguwo (sekarang Bandar Udara Adisutjipto) di Yogyakarta menuju ke Pangkalan Udara Maospati di Madiun.
Dalam perjalanan tersebut, pesawat yang dikemudikan oleh Adi Sucipto diserang oleh pesawat tempur Belanda. Serangan tersebut menyebabkan pesawat Adi Sucipto terbakar dan akhirnya jatuh di Desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta.
Gugurnya Adi Sucipto merupakan kehilangan besar bagi Indonesia, terutama bagi Angkatan Udara yang pada masa itu masih dalam tahap awal pengembangan. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, Bandar Udara Maguwo di Yogyakarta kemudian diubah namanya menjadi Bandar Udara Adisutjipto.
Monumen Ngoto di Bantul juga didirikan untuk mengenang jasa-jasa Adi Sucipto bersama dengan rekan-rekan seperjuangannya yang gugur dalam insiden yang sama.
Monumen ini menjadi tempat ziarah dan peringatan bagi masyarakat Indonesia untuk mengenang perjuangan dan pengorbanan para pahlawan nasional.
Monumen Ngoto adalah saksi bisu dari perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Melalui monumen ini, kita diajak untuk selalu mengingat jasa-jasa para pahlawan dan meneruskan semangat juang mereka dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan bangsa.
Reischa Pratiwi, siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Bantul mengatakan, senang berkunjung ke Monumen Ngoto.
“Berbeda dengan hanya belajar dari buku. Datang langsung bisa belajar lebih detail,” ujarnya kepada mabur.co.


