Mabur.co — Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY ) angkat bicara soal tewasnya 3 pasukan TNI saat menjalankan misi perdamaian PBB (UNFIL) di Lebanon.
SBY mendesak PBB bersikap tegas dan tidak memakai standar ganda dalam menyikapi tragedi ini.
Baik itu dengan menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi pasukan ke luar medan pertempuran saat ini.
Pernyataan SBY itu diunggah melalui akun resmi X-nya Minggu seusai ikut memberikan penghormatan terakhir kepada 3 prajurit TNI yang gugur begitu tiba di Indonesia.
Mantan Jenderal bintang empat itu mendukung pemerintah Indonesia yang mendesak PBB melakukan investigasi secara serius, jujur dan adil.
Untuk menjelaskan mengapa insiden beruntun yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka bisa terjadi.
Tak hanya itu SBY juga mendorong agar PBB tidak boleh pilih kasih dan menerapkan standar ganda dalam menyikapi tragedi ini.
SBY bahkan menyatakan Dewan Keamanan PBB harus segera bersidang dan bisa mengeluarkan resolusi yang tegas dan jelas.
Ia pun bernostalgia dengan membahas kembali salah satu kasus yang merenggut nyawa tiga orang petugas kemanusiaan PBB akibat unjuk rasa di Atambua, NTT pada tahun 2000 silam.
SBY yang saat itu menjabat Menko Polkam mengaku ikut menghadiri Sidang DK PBB.
“Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini,” tulisnya
Dalam cuitannya itu SBY juga menyatakan bahwa sesuai ketentuan, satuan pemeliharaan perdamaian PBB, seperti Kontingen Garuda XXIII/S yang sedang mengemban tugas di Lebanon saat ini, memiliki tugas untuk menjaga perdamaian (peacekeeping) bukan membuat perdamaian (peacemaking).
“Penjaga perdamaian tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak pula diberikan mandat untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran. Ini diatur dalam Chapter 6 Piagam PBB. Bukan Chapter 7,” ujar dia.
Selain tidak bisa melakukan tugas yang lebih keras, sebagai pasukan penjaga perdamaian peacekeeping ini dikatakan SBY juga hanya bertugas di zona biru yang memisahkan teritori Israel dengan teritori Lebanon. Dan bukan merupakan daerah pertempuran atau ‘zona perang’.
“Namun sekarang ini, kenyataannya mereka sudah berada di zona perang antara Israel dan Hizbullah. Bahkan dikabarkan pasukan Israel sudah maju 7 km dari zona biru. Keadaan ini tentu sangat berbahaya bagi “peacekeeper”,” katanya.
Karena itulah dengan argumentasi ini, SBY menilai seharusnya PBB dan New York harus segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini.



