Mabur.co – Memasuki hari ke-35, eskalasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel mengalami peningkatan signifikan.
Hal itu setelah AS terang-terangan menyasar sejumlah infrastruktur sipil hingga medis di wilayah Iran.
Terkahir, sebuah jembatan gantung terbesar milik Iran dilaporkan runtuh setelah dihantam serangan udara AS Kamis (02/04/2026) kemarin.
Akibat serangan ini sedikitnya 8 orang tewas sementara 95 orang lainnya mengalami luka-luka.
Dikutip Al Jazeera, Jumat (3/4/2026), media pemerintah Iran menyebut jembatan yang dikenal sebagai Jembatan B1 tersebut diserang hingga dua kali dalam satu rangkaian serangan udara.
Parahnya jembatan terbesar dan tertinggi di Timur Tengah bernilai 400 juta dolar AS itu diserang meski belum sepenuhnya jadi dan baru akan dibuka tahun ini.
Terletak di kota Karaj, Jembatan B1 ini sendiri dibangun untuk menghubungkan kota Karaj dengan Teheran yang berada sekitar 35 kilometer di barat daya ibu kota Iran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sendiri turut mengunggah langsung rekaman video yang memperlihatkan kepulan asap dari lokasi jembatan B1 yang runtuh itu di media sosialnya.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa “jembatan terbesar di Iran runtuh dan tidak akan pernah digunakan lagi,”.
Trump juga mengancam akan memperluas serangan terhadap infrastruktur penting Iran lainnya dengan menyatakan bahwa Washington “belum benar-benar mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran”.
Masih dalam pernyataannya, Trump pun mengaku akan kembali melancarkan serangan ke Iran, dengan mengisyaratkan menyerang jembatan lain hingga pembangkit listrik sebagai target berikutnya.
Pernyataan Trump ini pun memicu kekhawatiran akan potensi pelanggaran hukum internasional, mengingat serangan terhadap infrastruktur sipil secara luas dilarang dalam konflik bersenjata.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengecam keras serangan AS tersebut. Ia menegaskan bahwa penargetan infrastruktur sipil, termasuk jembatan yang belum selesai dibangun, tidak akan melemahkan rakyat Iran.
“Serangan terhadap bangunan sipil tidak akan memaksa warga Iran untuk menyerah. Ini justru menunjukkan keruntuhan moral pihak lawan,” ujarnya dalam pernyataan di media sosial.
Pasca-serangan tersebut, Iran sendiri mengaku akan segera melancarkan aksi balasan. Beberapa laporan bahkan memuat daftar jembatan strategis di kawasan Timur Tengah yang berpotensi menjadi target, termasuk di Kuwait, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania.
Sementara itu Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan terhadap fasilitas industri yang terkait dengan kepentingan AS di kawasan Teluk.
Target yang disebutkan antara lain fasilitas baja di Abu Dhabi dan instalasi aluminium di Bahrain. Pernyataan itu pun menunjukkan peringatan keras IRGC.
Mereka memperingatkan, jika serangan terhadap infrastruktur maupun industri Iran terus berlanjut, maka Iran akan membalas jauh lebih besar dengan menyasar infrastruktur utama kepentingan ekonomi AS di kawasan.



