Mabur.co – Prabowo kembali menyinggung para pengamat yang mengkritiknya, dalam sebuah kesempatan pidato untuk pertama kalinya, setelah melakukan kunjungan ke Jepang dan Korea, beberapa waktu lalu.
Salah satu kritikan paling keras dari para pengamat (serta masyarakat umum) adalah ketika menyebutkan Prabowo sebagai sosok presiden yang “keras kepala”, dan tidak bisa dinasehati oleh siapapun, apalagi oleh rakyatnya sendiri.
Mendengar kritikan itu, Prabowo meresponnya dengan santai. Ia bahkan memberikan penafsiran yang berbeda di balik kata “keras kepala” itu sendiri.
“Katanya saya dibilang keras kepala. Ya saya harus terima itu sebagai kritikan untuk saya sendiri. Oh coba-coba pegang kepala saya nih, keras atau apa begitu ya. Jadi kadang-kadang (sikap) keras kepala itu juga dibutuhkan dalam suatu pekerjaan, apalagi yang menyangkut kedaulatan negara,” ungkap Prabowo dalam Taklimat Presiden terbaru bersama para menteri kabinet merah putih, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (8/4/2026).
Presiden pun membandingkan sifat keras kepala yang ia miliki, dengan prinsip “keras kepala” yang juga dimiliki oleh Iran, yang dianggapnya begitu menolak untuk dijajah oleh Amerika Serikat maupun Israel.
“Sekarang orang mengatakan rakyat Iran itu keras kepala. Pejuang-pejuang Iran keras kepala. Mereka bolak-balik diancam, bolak-balik mau dihabisin. Jadi kadang-kadang sebuah bangsa juga butuh yang namanya keras kepala itu.”
“Dulu Bapak-bapak pendiri bangsa kita juga keras kepala. Lebih baik mati daripada dijajah kembali. Keras kepala tuh mereka semua. Kalau tidak keras kepala mungkin kita tidak akan pernah benar-benar merdeka sampai hari ini,” lanjut Prabowo.
Bagi seorang Prabowo, prinsip “keras kepala” bagi suatu bangsa adalah salah satu kunci utama, agar tetap bisa mempertahankan kedaulatan negara dari ancaman “antek-antek asing”, serta kekuatan jahat lainnya. (*)

