Presiden Prabowo Subianto Dilarang Berpidato Selama Bulan Ramadan

Mabur.co – Berbagai kegaduhan dan problematika yang melanda bangsa Indonesia dalam beberapa waktu terakhir ini, telah meresahkan sebagian besar masyarakat Indonesia.

Menurut mereka, salah satu yang kerap menjadi pemicu kegaduhan adalah pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto, yang selama ini terkenal berapi-api, dan cenderung hanya mengunggulkan program-program andalannya, termasuk salah satunya adalah MBG (Makan Bergizi Gratis).

Selain itu, dalam berbagai kesempatan pidato, Prabowo juga kerap menyampaikan sesuatu yang bertentangan dengan realita yang terjadi di lapangan. 

Misalnya saja ketika Prabowo menyebut bahwa MBG telah menghasilkan satu juta lapangan pekerjaan, Indonesia adalah negara yang paling bahagia di dunia, atau saat menuduh rangkaian demo Agustus 2025 sebagai permainan yang diciptakan oleh antek asing, untuk menghancurkan bangsa Indonesia.

Narasi-narasi semacam itu membuat masyarakat mulai jengah, dan menyuarakan di media sosial agar Prabowo tidak lagi berpidato, khususnya selama bulan Ramadan.

Melalui akun Ahmad Tsauri di media sosial Facebook, ia berharap agar Prabowo bisa “libur” berpidato selama bulan Ramadan.

Cuplikan postingan Ahmad Tsauri di Facebook yang viral dalam beberapa hari terakhir (Foto: Facebook Ahmad Tsauri)

Hal ini dimaksudkan agar masyarakat bisa menjalani ibadah puasa dengan lebih tenang dan khusyuk, dan tidak perlu mendengarkan pidato ala Presiden Prabowo, yang selama ini dianggap bertentangan dengan realita masyarakat yang sesungguhnya.

Karena apabila Prabowo terus-menerus berpidato dengan cara seperti itu, termasuk di bulan Ramadan kali ini, dikhawatirkan akan membuat kualitas puasa menurun, bahkan juga bisa membatalkan puasa secara keseluruhan.

Postingan ini pun telah mendapat puluhan ribu likes, serta dikomentari hingga lebih dari lima ribu netizen lainnya di laman media sosial Facebook.

Jika melihat dari bagaimana Prabowo berpidato sejak ia menjabat sebagai Presiden pada akhir 2024 lalu, termasuk bagaimana masyarakat bereaksi terhadap setiap pidato tersebut, mungkin akan lebih tepat rasanya, jika Prabowo tidak usah lagi berpidato sampai seterusnya, tidak hanya selama bulan Ramadan ini saja.

Karena terbukti, pola yang digunakan Prabowo setiap kali berpidato selalu sama, yakni mengagung-agungkan kebijakan atau program yang telah dibuatnya, didukung dengan angka dan statistik yang sudah dimanipulasi, untuk menyatakan seolah-olah semuanya baik-baik saja.

Kemudian ia juga menepis berbagai tanggapan dari publik, yang kerap mengkritisi kebijakan yang menurutnya telah “berpihak pada rakyat” tersebut.

Padahal, kenyataan yang ada justru malah sebaliknya. (*) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *