Mengenal Karangan, Makanan Jadul ala Bantul

Banyak orang berburu kuliner jadul. Rupanya kuliner jadul memang lebih menantang dicari. Selain karena rasanya yang kerap menohok lidah, keasyikan berburu yang langka juga merupakan sensasi tersendiri.

Di tengah derasnya perkembangan kuliner modern, terdapat sejumlah makanan tradisional di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang mulai jarang ditemui. Salah satunya adalah karangan.

Dikutip dari akun Instagram humasjogja milik Pemda DIY, Selasa (24/2/2026) makanan jadul khas Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, ini bahkan masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat, padahal menyimpan jejak tradisi kuliner lokal yang patut dilestarikan.

Apabila dilihat sekilas, rupa dari karangan mirip camcau, sebab sama-sama berwarna hijau tua yang membuat keduanya nampak sama.

Namun, dua makanan tersebut dibuat dari bahan dasar yang jauh berbeda. Karangan diproduksi menggunakan bahan dasar utama rumput laut.

Saat ini, eksistensi karangan pun kian sulit ditemukan. Masyarakat hanya dapat menjumpai kudapan jadul ini di daerah asalnya, Kretek, Bantul, tepatnya di Pasar Rakyat Turi setiap pasaran Pahing. Juga di Pasar Celep, dan Pasar Ngangkruksari.

Jika mencari keberadaan kuliner ini di Pasar Rakyat Turi pada pasaran Pahing, Mbah Rukidem merupakan satu-satunya pelestari yang terlihat menawarkan karangan ditemani sang cucu, Shinby Aulia.

Sang cucu yang akrab disapa Shinby ini mengungkapkan bahwa memang hanya tersisa Mbah Rukidem yang masih memproduksi karangan hingga sekarang, di saat warga lainnya sudah tidak lagi membuat.

Disampaikan Shinby, pembuatan karangan terbilang cukup mudah lantaran tidak memerlukan banyak bahan dan tidak melibatkan teknik memasak yang sulit. Rumput laut dicuci kemudian direbus dengan air yang telah dididihkan.

Selanjutnya, dicampur dengan asam Jawa dan direbus sekitar 4 jam, agar air rebusan dapat menyatu dengan rumput laut hingga menciptakan tekstur yang mengental.

Selama proses perebusan, rumput laut diaduk-aduk, dan diberi pewarna makanan berwarna hijau supaya tampilannya lebih menarik.

Setelah direbus selama 4 jam, tahap berikutnya ialah mencetak karangan pada batok atau tempurung kelapa.

Lalu didiamkan hingga dingin dan memadat sekitar 20 menit. Apabila sudah dingin, karangan siap dilepaskan dari batok kelapa dan siap untuk dikonsumsi. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *