Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, melakukan kunjungan budaya ke Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu.
Dalam rilis yang diterima mabur.co, Kamis (26/2/2026), kunjungan ini menegaskan komitmen Kementerian Kebudayaan dalam memperkuat fungsi situs sejarah sebagai ruang edukasi, refleksi, dan aktivasi kebudayaan.

Dalam keterangannya, Menbud Fadli menyebutkan bahwa Bung Karno diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Bengkulu pada 1938–1942, setelah sebelumnya menjalani masa pengasingan di Ende pada 1934–1938.
Masa pengasingan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan perjuangan tokoh-tokoh bangsa.
“Para pendiri bangsa kita mengalami pengasingan di berbagai daerah. Bung Karno di Ende dan Bengkulu. Bung Hatta dari Digul ke Banda Neira. Bung Syahrir juga dari Digul ke Banda Neira, kemudian dipindahkan ke Sukabumi. Tempat-tempat ini menjadi saksi hidup perjuangan mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” ujar Menteri Kebudayaan.
Di Bengkulu, Bung Karno tidak hanya menjalani masa pengasingan, tetapi juga aktif melakukan refleksi, berdiskusi, dan berinteraksi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, serta budayawan setempat.
Sejumlah koleksi di rumah pengasingan tersebut, termasuk naskah sandiwara Monte Carlo dan berbagai bacaan, menjadi bukti aktivitas intelektual Bung Karno selama berada di Bengkulu.
Menbud Fadli menekankan bahwa sebagai bangunan bersejarah yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional, Rumah Pengasingan Bung Karno memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat informasi, pembelajaran, serta destinasi edukasi dan rekreasi budaya.
Bengkulu juga memiliki arti penting dalam sejarah nasional karena di kota ini Bung Karno bertemu dengan Ibu Fatmawati, yang kelak menjahit Bendera Pusaka Merah Putih.
“Kita berharap semakin banyak generasi muda yang datang dan belajar dari tempat ini. Situs ini telah ditata dengan baik, dan ke depan perlu terus diaktifkan melalui kegiatan-kegiatan budaya,” ujarnya.
Aktivasi tersebut, lanjut Menteri Kebudayaan, dapat diwujudkan melalui penyelenggaraan kegiatan seni, pembacaan puisi, pertunjukan musik, diskusi kebudayaan, hingga pengembangan ruang baca atau perpustakaan mini.
Dukungan fasilitas penunjang seperti penyediaan kopi khas Bengkulu dan kuliner tradisional juga dinilai dapat meningkatkan daya tarik kunjungan, khususnya bagi anak muda dan wisatawan dari luar daerah. ***



