Ayem, Pedagang Kembang Api Legendaris Rasakan Ekonomi Lesu

Mabur.co– Di balik gemerlap kembang api yang biasa menghiasi langit Yogyakarta, tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, kepedulian sosial, sekaligus upaya menjaga tradisi.

Sosok itu adalah Ayem, pedagang kembang api legendaris yang telah menekuni usahanya sejak 1968.

Ayem mulai berjualan di kawasan Ketandan pada awal 1970-an, sebelum akhirnya menetap di lokasi usahanya sekarang.

Berbeda dengan pedagang musiman, tokonya buka setiap hari, menyediakan berbagai jenis kembang api hingga asesoris pesta.

Namun perayaan Imlek dan Ramadan tahun ini, suasana terasa berbeda. Ayem mengaku prihatin melihat kondisi ekonomi yang melemah, ditambah musibah banjir di sejumlah daerah.

“Sekarang ini kita prihatin. Banyak banjir, ekonomi juga sedang drop. Daripada untuk hura-hura, lebih baik disumbangkan untuk sosial yang membutuhkan,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).

Ayem menyebut, sejumlah vihara yang biasanya menjadi pelanggan setia memilih tidak menyalakan kembang api sebagai bentuk empati.

Bersama komunitas sekitar, Bu Ayem pun menyalurkan bantuan berupa beras dan minyak goreng kepada warga yang membutuhkan.

“Mudah-mudahan nomor satu itu sehat. Dikasih banyak uang kalau tidak sehat, buat apa?” tuturnya.

Ayem, selain berdagang juga dikenal aktif memberdayakan karyawan dan warga desa.

Ayem menerapkan filosofi hidup “kasih pancing, bukan ikan” dengan memberikan modal usaha kecil kepada mereka yang ingin berjualan, terutama saat momen Lebaran.

“Saya didik mereka, ‘mbok ya lebaran itu jualan’. Kalau tidak laku, kembalikan ke saya. Saya kasih mereka pancing, terutama orang-orang desa,” katanya.

Tak hanya memberi modal, Ayem juga menjamin keamanan para pedagang kecil yang mengambil barang darinya.

Ia bahkan siap bertanggung jawab jika terjadi masalah di lapangan.

“Kalau dirampas atau ada apa-apa, kasihkan saja. Urusannya nanti sama aku, tak ijoli,” ucapnya tegas.

Ayem, berjualan kembang api bukan sekadar mencari keuntungan. Ada misi budaya yang ia rawat selama puluhan tahun, yakni nguri-uri tradisi Tionghoa yang identik dengan petasan dan kembang api sebagai simbol sukacita, harapan, dan doa keselamatan.

Tradisi itu, menurutnya, perlu dijaga agar generasi muda tetap mengenal akar budaya di tengah perubahan zaman.

Kini, di usianya yang tak lagi muda, harapan Ayem sederhana: ekonomi segera pulih, masyarakat hidup lebih sejahtera, dan semua orang diberi kesehatan.

Kebahagiaan terbesarnya justru datang dari hal-hal kecil, melihat anak-anak desa bisa berjualan, membeli baju baru, atau mengisi pulsa dari hasil kerja mereka sendiri.

Di tengah lesunya ekonomi, kisah  Ayem menjadi pengingat bahwa berbagi bukan hanya soal bantuan materi.

Melainkan membuka jalan agar orang lain dapat berdiri di atas kaki sendiri, sembari tetap merawat warisan budaya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *