Harga Plastik Melambung, Harga Es Teh Jumbo Ikut Naik - Mabur.co

Harga Plastik Melambung, Harga Es Teh Jumbo Ikut Naik

Mabur.co – Sejumlah masyarakat di Kabupaten Kulon Progo mulai merasakan dampak kenaikan harga plastik kemasan sejak beberapa waktu terakhir. 

Salah satu pihak yang paling merasakan dampak kenaikan harga plastik kemasan itu adalah para pelaku UMKM termasuk pedagang kecil. 

Akibat kondisi ini sejumlah pedagang, khususnya penjual minuman kemasan pun terpaksa menaikkan harga jual demi menjaga keberlangsungan usaha mereka.

Salah satu pedagang kaki lima yang merasakan dampak kenaikan harga plastik adalah Erli Eka.

Pedagang yang berjualan minuman kemasan ini mengaku telah menaikkan harga dagangannya sejak sekitar satu minggu terakhir. 

Ia sendiri menjual berbagai minuman kemasan seperti es teh jumbo dan aneka minuman rasa yang berlokasi tak jauh dari kawasan Pasar Tradisional, Bendungan, Wates, Kulon Progo.

Menurut Erli, harga es teh yang sebelumnya Rp2.500 kini naik menjadi Rp3.000 per gelas.

Sementara itu, es jeruk yang semula dijual Rp4.000 kini menjadi Rp5.000 per gelas. 

“Mau tak mau harus menaikkan harga. Kalau tidak rugi karena biaya operasional membengkak. Rata-rata untuk tiap jenis minuman naik sekitar Rp500 hingga Rp1.000 per gelas,” katanya, Selasa (07/04/2026).

Kenaikan harga tersebut, kata Erli, tidak terlepas dari melonjaknya harga bahan baku plastik kemasan sejak sebelum Lebaran, yang mencapai 70 hingga 80 persen. 

Padahal, sebagai pedagang minuman kemasan, ia sangat bergantung pada berbagai jenis plastik, mulai dari cup plastik, sedotan, hingga kantong kresek untuk membungkus pesanan pelanggan.

Ia mencontohkan, harga cup plastik yang sebelumnya sekitar Rp12.000 per bungkus kini naik menjadi Rp20.000.

Sementara itu, plastik kresek juga mengalami kenaikan dari Rp5.000 menjadi Rp7.000.

Meski kenaikan harga jual sempat dikeluhkan pelanggan, Erli mengaku tidak memiliki pilihan lain.

Ia harus tetap menyesuaikan harga agar usahanya tetap berjalan dan tidak merugi.

“Kalau tidak dinaikkan, tidak bisa dapat untung,” ujarnya.

Beruntung, hingga saat ini Erli belum merasakan penurunan jumlah pembeli secara signifikan. Setiap harinya ia mengaku masih mampu menjual sekitar 100 gelas minuman berbagai jenis.

Berbeda, salah seorang pedagang lainnya, Rudi mengaku, belum berani menaikkan harga dagangan karena takut merugi.

Pedagang es cincau ini mengaku tetap menjual harga dawet sebesar Rp5000 per gelas meski harga plastik kemasan melambung. 

“Sementara harganya tetap, belum naik. Karena takut pelanggan tidak membeli. Tapi ya otomatis pemasukan berkurang karena kepotong untuk beli plastik yang semakin mahal,” katanya.

Menyikapi kondisi ini para pedagang pun berharap harga plastik kemasan dapat segera kembali normal agar tidak semakin membebani pedagang maupun masyarakat sebagai konsumen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *