Mabur.co – Tanggal 18 Maret tepatnya tahun 1940 diperingati sebagai hari penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Raja ke-9 Keraton Kasultanan Yogyakarta.
Semasa hidup, Sri Sultan HB IX yang memiliki nama kecil GRM Dorojatun, dikenal sebagai sosok raja Jawa yang sangat merakyat serta nasionalis.
Berbagai kiprahnya di tingkat Nasional tercatat rapi dalam buku-buku sejarah di semua sekolah di Indonesia.
Tak hanya dikenal sebagai Pahlawan Nasional, Sri Sultan HB IX juga tercatat sebagai Menteri Pertahanan, Menko Ekonomi dan Pembangunan, hingga Wakil Presiden ke-2 Indonesia.
Meski hidup di tengah gejolak masa perjuangan kemerdekaan serta awal berdirinya negara Republik Indonesia, Sri Sultan HB IX, ternyata juga dikenal memiliki jiwa seni yang tinggi.
Salah satu peninggalannya di bidang seni tradisi tertuang dalam karya tari Beksan Golek Menak.
Meski memiliki latar belakang pendidikan Barat sejak kecil, nyatanya Sri Sultan HB IX tetap memiliki kecintaan luar biasa terhadap budaya leluhurnya.
Dilansir dari situs resmi Kraton Yogyakarta, Sri Sultan HB IX menginisiasi lahirnya Tari Beksan Golek Menak sekitar tahun 1941.
Ide tersebut muncul setelah sultan menyaksikan pertunjukan Wayang Golek Menak dari seorang dalang asal Kedu, yang kemudian menginspirasinya untuk mengangkatnya ke dalam seni tari panggung.
Untuk merealisasikan gagasan tersebut, sultan mengumpulkan sejumlah pakar tari keraton.
Proses penciptaan tari ini berlangsung cukup lama hingga akhirnya bisa dipentaskan perdana di keraton pada 1943.
Tak seperti dramatari Wayang Wong yang menceritakan kisah Ramayana dan Mahabharata, dramatari Golek Menak menceritakan kisah-kisah yang diambil dari Serat Menak yang bersumber dari Hikayat Amir Hamzah.
Kisah tersebut telah mengalami adaptasi ke dalam budaya Jawa, termasuk perubahan nama tokoh seperti Amir Hamzah menjadi Amir Ambyah.
Secara garis besar, Serat Menak mengisahkan penyebaran Islam melalui tokoh utama tersebut.
Dalam proses kreatifnya, gerakan tari Beksan Golek Menak merupakan transformasi dari gerakan wayang golek kayu ke dalam tubuh manusia.
Dimana gerakannya menitikberatkan pada olah tubuh, langkah kaki yang ringan, serta gerakan leher yang khas guna merepresentasikan karakter wayang.
Meski sempat terhenti pasca-kemerdekaan Indonesia karena Sultan disibukkan dengan urusan kenegaraan, perkembangan tari ini tetap berlanjut lewat lembaga pusat pengembangan tari Beksan Golek Menak.
Bahkan hingga Sri Sultan HB IX meninggal tahun 1988, proses penyempurnaan tari ini tetap berlanjut.
Yang menarik lewat tari ini, Sri Sultan HB IX nampak menggabungkan berbagai unsur budaya di Indonesia.
Salah satu ciri khas dari tari ini adalah kostum dan riasan penari yang mengikuti karakter wayang golek dengan busana tertutup dan detail khas masing-masing tokoh.
Namun iringan musik tari menggunakan gamelan dengan tambahan kendang Sunda, serta dialog berbahasa Jawa gaya Bagongan.
Beksan Golek Menak tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga simbol semangat persatuan budaya Nusantara yang coba diwujudkan Sri Sultan HB IX.
Disamping melahirkan Beksan Tari Golek menak, di tengah kesibukannya, Sri Sultan HB IX diketahui juga melahirkan sejumlah tari lainnya.
Di antaranya seperti Tari Bedhaya Sapta yang dimainkan oleh tujuh orang, Tari Bedhaya Sangaskara atau Bedhaya Manten yang dimainkan enam orang, hingga Tari Bedhaya Arya Penangsang dan Bedhaya Damarwulan juga diciptakan olehnya. ***



