Mabur.co – Presiden Prabowo Subianto mulai menyadari adanya kejanggalan dalam setiap laporan yang ia terima dari para bawahannya. Lantaran setiap laporan yang masuk seringkali too good to be true, alias “terlalu indah untuk jadi kenyataan”.
Salah satu yang laporan yang cukup kontroversial adalah ketika Prabowo menyebut bahwa Indonesia merupakan negara paling bahagia sedunia, yang ia sampaikan pada awal Januari lalu.
Hal itu tentunya sangat bertolak belakang dengan situasi sebenarnya yang dialami oleh rakyat, yang hampir dipastikan tidak bahagia sedikitpun.
Apalagi ketika pemerintahan negara dipimpin oleh sosok peninggalan Orde Baru seperti Prabowo Subianto.
Dalam pertemuan dengan para jurnalis senior di istana Hambalang, Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, Prabowo merasakan sendiri budaya ABS (Asal Bapak Senang) yang selama ini dilakukan oleh para bawahannya.
“Harus saya akui bahwa budaya ABS, serta penyampaian laporan palsu, sudah begitu melekat di semua institusi sejak lama. Dan kalau salah informasi, bisa-bisa pengambilan keputusan akan jadi tidak baik,” tegas Prabowo dalam forum “Presiden Prabowo Menjawab”, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Liputan6, Kamis (19/3/2026).
Atas dasar itulah, Prabowo merasa perlu mewaspadai setiap laporan yang masuk, agar tidak terkesan ABS atau mengkamuflase fakta yang sebenarnya.
Bahkan, ia juga mengaku siap menerima laporan yang tidak menyenangkan dari para bawahannya, selama itu benar-benar sesuai dengan fakta yang sebenarnya, tanpa perlu menambah atau mengurangi setiap data yang terkandung di dalamnya.
“Kita harus mau dan berani, untuk menerima laporan yang paling tidak enak sekalipun. Agar kita tahu kondisi yang sesungguhnya terjadi di lapangan,” ungkap Prabowo.
Presiden berusia 74 tahun ini juga mengaku ikut memperhatikan postingan atau konten yang kerap mengkritik kinerjanya sebagai presiden di ranah media sosial, sekalipun hal itu terasa menyakitkan bagi dirinya. (*)



