Mabur.co – Harga komoditas pangan di negara-negara Eropa termasuk Inggris diperkirakan akan mengalami kenaikan dalam waktu dekat ini, sebagai dampak konflik di wilayah Timur Tengah.
Peringatan ini disampaikan oleh Serikat Petani Nasional Inggris (NFU), yang menilai tekanan terhadap rantai pasok pangan kian meningkat pascapenutupan selat Hormuz oleh Iran akhir Februari lalu.
Dikutip BBC, Presiden NFU, Tom Bradshaw, mengungkapkan bahwa sejumlah komoditas hortikultura seperti mentimun dan tomat berpotensi mengalami kenaikan harga dalam waktu enam minggu ke depan.
Sementara itu, produk lain seperti tanaman pangan skala besar seperti susu dan gandum diperkirakan baru akan terdampak dalam kurun tiga hingga enam bulan mendatang.
Menurut Bradshaw, situasi ini dipicu oleh blokade Iran terhadap Selat Hormuz yang telah berlangsung lebih dari tiga minggu.
Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi global untuk minyak mentah, gas alam, dan pupuk yang merupakan komponen penting dalam produksi pangan.
“Kondisi ini akan memengaruhi seluruh rantai pasokan makanan dan perlu ditanggapi secara serius oleh pemerintah,” ujar Bradshaw dalam wawancara dengan BBC Radio 4.
Ia menambahkan bahwa gangguan distribusi energi dan bahan baku akan berdampak besar pada produksi pangan global. Namun, besaran kenaikan harga yang akan dirasakan konsumen masih belum dapat dipastikan, mengingat petani menjual hasil panen kepada pengecer yang kemudian menentukan harga akhir di pasar.
NFU memperkirakan sebagian beban biaya tambahan ini nantinya akan ditanggung oleh pelaku usaha di sepanjang rantai pasok. Meski demikian, kenaikan harga di tingkat konsumen dinilai tidak terhindarkan.
Produk yang ditanam di rumah kaca, seperti tomat, mentimun, dan paprika, diperkirakan menjadi yang paling cepat terdampak. Hal ini disebabkan ketergantungan produksi jenis tanaman tersebut terhadap gas alam sebagai sumber energi.
Di sisi lain, peternak dan industri pengolahan susu juga berpotensi mengalami tekanan biaya dalam waktu dekat, terutama karena pembelian pupuk yang dilakukan secara berkala.
Adapun petani tanaman seperti gandum dan jelai relatif lebih terlindungi dalam jangka pendek karena umumnya telah mengamankan pasokan pupuk sebelumnya.
British Retail Consortium (BRC) menyatakan bahwa gangguan jalur distribusi global dapat memengaruhi ketersediaan dan harga sejumlah barang.
Meski demikian, pihaknya menilai para pengecer memiliki pengalaman dalam menghadapi situasi serupa dan akan berupaya meminimalkan dampaknya bagi konsumen.
Direktur pangan dan keberlanjutan BRC, Andrew Opie, menegaskan bahwa kenaikan biaya energi yang berkelanjutan berpotensi berdampak langsung pada harga barang.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga tekanan inflasi tetap terkendali di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, kekhawatiran juga muncul terkait lonjakan harga solar merah, bahan bakar yang banyak digunakan dalam aktivitas pertanian.
Menteri Pertanian Inggris, Angela Eagle menyatakan pihaknya terus memantau perkembangan situasi dan dampaknya terhadap sektor pangan.
Yakni dengan menggelar rapat darurat dalam waktu dekat untuk membahas dampak konflik Timur Tengah terhadap biaya hidup.



