Mabur.co – Wabah hantavirus menjadi sorotan luas publik setelah dilaporkan terjadi di kapal pesiar mewah MV Hondius dan menyebabkan tiga orang meninggal dunia.
Selain itu, terdapat lima kasus lain yang telah dikonfirmasi maupun masih diduga terinfeksi virus tersebut.
Meski memicu kekhawatiran, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan risiko penyebaran hantavirus saat ini diyakini masih tergolong rendah dan belum menyebar secara luas.
Lalu apa sebenarnya Hantavirus? Berdasarkan sejumlah kajian sebagaimana dikutip Reuters, Kamis (7/5/2026), hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa hewan pengerat seperti tikus dan mencit, serta dapat menginfeksi manusia.
Nama “Hanta” berasal dari Sungai Hantan di Korea Selatan, lokasi pertama kali virus ini diidentifikasi pada tentara saat Perang Korea pada awal 1950-an.
Sejak saat itu, berbagai jenis hantavirus ditemukan di sejumlah wilayah dunia.
WHO memperkirakan terdapat sekitar 10.000 hingga 100.000 kasus hantavirus pada manusia setiap tahun di seluruh dunia, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda tergantung jenis virusnya.
Jenis virus yang ditemukan dalam kasus di kapal MV Hondius adalah Andes hantavirus, strain yang umumnya ditemukan di wilayah Argentina dan Chile.
Temuan ini sejalan dengan fakta yang menyebutkan bahwa kapal MV Hondius berangkat dari Argentina pada 1 April lalu.
Berdasarkan sejumlah penelitian Hantavirus umumnya menyebar melalui kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi. Manusia dapat tertular akibat terpapar urin, kotoran, maupun air liur tikus.
Penularan paling sering terjadi ketika partikel virus beterbangan di udara saat seseorang membersihkan area yang terkontaminasi sarang tikus.
Virus juga dapat menyebar melalui permukaan benda yang tercemar, kontak langsung dengan hewan pengerat, maupun dalam kasus yang jarang melalui gigitan tikus.
Lingkungan yang kotor dan banyak terdapat tikus menjadi lokasi dengan risiko penularan lebih tinggi.
Namun khusus untuk jenis Andes hantavirus memiliki karakteristik berbeda dibanding jenis hantavirus lain karena diketahui dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat dan berkepanjangan.
WHO menyebut hingga saat ini belum ditemukan perubahan pada virus yang membuatnya lebih mudah menular secara luas. Meski demikian, lembaga tersebut menduga terjadi penularan antarmanusia terbatas di atas kapal pesiar.
Dilansir dari website resmi Universitas Negeri Surabaya, gejala awal infeksi hantavirus sering kali menyerupai flu biasa sehingga kerap sulit dikenali pada tahap awal.
Penderita biasanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot terutama di bagian punggung dan pinggul, kelelahan, mual, muntah, hingga diare.
Namun dalam beberapa kasus, penyakit dapat berkembang cepat menjadi kondisi serius seperti Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
Pada fase lanjut, pasien dapat mengalami batuk kering, sesak napas, penumpukan cairan di paru-paru, penurunan tekanan darah drastis, hingga gagal ginjal akut.
Infeksi virus Hanta juga dapat menyebabkan kebocoran pembuluh darah yang memicu syok dan gangguan organ vital.
Pada kasus HPS, tingkat kematian dilaporkan dapat mencapai 30 hingga 40 persen apabila tidak segera ditangani secara medis.
Hingga kini belum tersedia vaksin hantavirus secara global, meskipun beberapa negara seperti China dan Korea Selatan telah mengembangkan vaksin dalam penggunaan terbatas.
Karena itu, pencegahan menjadi langkah paling penting untuk mengurangi risiko penularan.
Beberapa upaya pencegahan yang disarankan antara lain menjaga kebersihan lingkungan dari tikus, menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat, serta menghindari membersihkan sarang tikus secara kering tanpa disinfektan.
Penggunaan masker dan sarung tangan saat berada di area yang berpotensi terkontaminasi juga dianjurkan.
Sementara itu, penderita yang terinfeksi membutuhkan penanganan medis intensif di rumah sakit. Semakin cepat gejala dikenali dan ditangani, semakin besar peluang pasien untuk pulih.



