Bukan Karena Senjata Nuklir, Duta Besar AS Marshall Green Takut Kutukan Maut - Mabur.co

Bukan Karena Senjata Nuklir, Duta Besar AS Marshall Green Takut Kutukan Maut

Mabur.co- Ada kisah tak biasa di balik hubungan diplomatik Indonesia dan Amerika Serikat pada era 1960-an.  

Seorang Duta Besar Amerika, Marshall Green, ternyata pernah menolak ajakan langsung Presiden Soekarno bukan karena konflik politik bukan karena ancaman keamanan, tapi karena satu hal yang tak terduga.  

Di balik hubungan diplomatik yang serius, ternyata ada cerita tentang ketakutan, budaya dan kepercayaan yang tak bisa di elaskan oleh logika.

Dilansir dari CNBC, Rabu (25/3/2026), Sosok penting Washington di Jakarta, Marshall Green, ternyata pernah diliputi ketakutan hingga beberapa kali menolak ajakan langsung Presiden Soekarno.

Bukan karena alasan politik atau keamanan, melainkan faktor yang tak terduga, yakni mitos penguasa Laut Selatan, Nyi Roro Kidul.

Ceritanya bermula saat Soekarno kerap mengajak Green berkunjung ke Pelabuhan Ratu, lokasi peristirahatan presiden yang menghadap langsung ke Samudra Hindia.

Bagi Soekarno, kunjungan itu sekadar agenda santai di tengah padatnya urusan kenegaraan.

Ketakutan itu menguat setelah muncul kabar seorang diplomat asing yang tewas terseret ombak di kawasan tersebut.

Sejak saat itu, Green yang awalnya tak terlalu percaya hal mistis mulai berubah sikap.

Dia bahkan disebut-sebut merasa dirinya sudah “dekat” dengan bahaya, hanya karena nama belakangnya, Green, yang dalam bahasa Indonesia berarti hijau.

Kekhawatiran itu membuatnya berkali-kali menolak ajakan Soekarno ke Pelabuhan Ratu, meski undangan datang langsung dari orang nomor satu di Indonesia.

Ketika menyerahkan surat kepercayaan di Istana Negara pada 26 Juli 1965, kesabaran Duta Besar Amerika Marshall Green langsung diuji oleh Presiden Sukarno.

Dalam sesi pertukaran pernyataan, Sukarno menyerang dengan keras kebijakan politik luar negeri AS.

Wakil Komandan Tjakrabirawa, Kolonel Maulwi Saelan, turut hadir dan memperhatikan gerak-gerik Green.

“Marshal Green pura-pura tidak mendengarkan serangan Bung Karno. Sebaliknya, ia dengan tertib berdiri dengan tegak di ruangan upacara, meskipun kemudian hari ia mengakui tidak tahan dan ingin pergi meninggalkan istana,” kenang Saelan dilansir dari buku “Revolusi 45 sampai Kudeta 66: Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *