Daya Hidup - Mabur.co

Daya Hidup

Saudaraku, jika gelisah masih mengetuk dadamu di malam sunyi, jangan buru-buru mengusirnya.

Barangkali ia adalah angin yang menggerakkan layar, tanda bahwa perahumu belum karam, bahwa jiwamu masih berdenyut di antara riak keraguan dan harapan.

Jika hari-harimu terasa beku, tanpa riak, tanpa getar, seperti danau tanpa angin, waspadalah.

Barangkali bukan damai yang kau genggam, melainkan sunyi yang telah mengubur rasa, dan jiwamu perlahan membatu.

Jika cemburu sempat menyelinap di celah hatimu, jangan lekas memakinya. Ia mungkin bara kecil yang masih setia menjaga hangat, bisik yang berkata: “Di sini, cinta belum benar-benar pergi.”

Jika masa bodoh terlanjur melelapkanmu; tak ada lagi peduli, tak ada lagi tanya, tak ada lagi luka—hanya hampa yang merambat tanpa gema, berdukalah.

Sebab api itu telah padam tanpa asap, dan yang tersisa hanyalah abu yang lupa pernah menjadi nyala.

Jika kau masih mampu merasa bersalah, bersyukurlah dalam diam. Itu tanda nuranimu belum padam, masih ada cahaya yang menolak gelap, yang diam-diam memanggilmu pulang dari jalan sesat.

Jika kau tak lagi merasa bersalah, bahkan saat melukai, berinsyaflah.

Barangkali hatimu telah kehilangan cermin, dan benar-salah hanyalah bayang yang tak lagi kau kenali.

Jika kau masih bisa memaafkan, meski lukamu belum reda, bersukalah. Hatimu sedang belajar menjadi luas, menjadi langit yang tak runtuh hanya karena satu badai.

Jika dendam kau pelihara dalam diam, dan luka kau rawat seperti pusaka, bertobatlah.
Sebab yang kau genggam bukan kekuatan, melainkan bara yang perlahan membakar jiwamu sendiri.

Jika kau masih berani memulai lagi, meski jatuh berkali-kali, berbanggalah. Itu tanda harapan belum lelah, masih ada bagian darimu yang percaya pada kemungkinan.

Jika kau memilih berhenti karena takut, lalu menyebutnya sebagai kehati-hatian, terjagalah. Barangkali hidupmu sedang kau kurung sendiri, dalam batas yang kau bangun dari bayang kegagalan.

Begitulah, hidup dirayakan dengan syukur dalam kekurangan, bersahaja dalam kelebihan, kebahagiaan tanpa kemelekatan; rapuh tanpa takut, kuat tanpa pongah —sebab di dalam paradoks itulah jiwa belajar hidup sepenuhnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *