Mabur.co – Guru besar Ilmu politik yang juga pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani, mengaku khawatir dengan tingkah laku Prabowo sejak dilantik jadi presiden pada Oktober 2024 lalu.
Bahkan dalam pidato pertamanya saat dilantik, Prabowo pernah mengatakan “Indonesia memang negara demokrasi, tapi demokrasi-nya harus khas Indonesia”.
Kata-kata “khas Indonesia” itu seketika mengingatkan Saiful dengan sosok mantan presiden Soeharto, yang juga pernah mengucapkan hal yang sama puluhan tahun silam.
Saiful pun kembali membuka visi-misi partai Gerindra, partai pengusung Prabowo sebagai Capres sejak 2014 lalu.
Disitulah Saiful menemukan kata-kata “Mempertahankan kedaulatan dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945” dalam salah satu misi Gerindra.
Saiful lantas bertanya-tanya, apakah presiden Prabowo tidak mengakui era reformasi yang sudah berlaku saat ini? Sehingga ia ingin mengembalikan konstitusi seperti era kemerdekaan lalu.
“(Saat Prabowo mengucapkan kata “khas Indonesia”) saya jadi inget sama Pak Harto. Kata-kata “khas Indonesia” itu. Demokrasi pancasila. Demokrasi pancasila adalah tidak mengakui check and balances, lalu semuanya dikatakan musyawarah, yang sebenarnya tidak ada musyawarah disitu pada zaman orde baru. Adanya adalah dikte oleh Pak Harto,” ungkap Saiful Mujani, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Quo Vadis Indonesia, belum lama ini,
Saiful menambahkan, jika suatu ketika Prabowo benar-benar mendapatkan dukungan yang cukup untuk mengembalikan konstitusi ke dalam bentuk yang “asli”, Saiful mengkhawatirkan bahwa rezim Prabowo akan mengubah konstitusi nasional ke dalam bentuk yang tidak demokratis.
“Saya khawatir dia akan membuat konstitusi kita dirubah kembali kepada konstitusi yang tidak demokratis. Itu ancaman serius buat saya. Oleh karena itu saya ingin menghentikan itu (Prabowo mengembalikan konstitusi ke bentuk yang “asli). Pak Prabowo kalau tidak taat (terhadap konstitusi yang sekarang) seperti ini. Turun! (dari kursi RI 1),” tegas Saiful.
Saiful sendiri menganggap bahwa Prabowo masih hidup dalam bayang-bayang orde baru, sehingga merasa bahwa kekuasaan absolut seperti zaman orde baru, adalah konstitusi yang lebih cocok diterapkan di negeri ini.
Tanpa mempedulikan (atau bahkan lupa) terhadap peristiwa reformasi besar-besaran pada 1998 silam. (*)



