Mabur.co – Dalam suasana hari buku sedunia (World Book Day) yang jatuh setiap tanggal 23 April, setiap orang perlu mengingat salah satu fungsi utama buku, yang seolah kian terlupakan di era modern saat ini.
Salah satu fungsi utama buku adalah membuka “jendela dunia”.
Ungkapan ini sudah begitu populer sejak abad ke-19 silam. Ketika seorang “Bapak Pendidikan Amerika” bernama Horace Mann menganalogikan buku sebagai “jendela” dalam suatu rumah.
Karena yang namanya rumah, tidak akan mungkin bisa berdiri tanpa ada jendela di dalamnya.
Begitu pun dengan buku, yang mustahil tidak dimiliki oleh orang-orang berpendidikan di rumah/kamarnya. Karena (membaca) buku akan membuka jendela dunia, alias ilmu pengetahuan seluas-luasnya dari seluruh dunia, tanpa harus bepergian ke negara tersebut secara fisik.
Tidak hanya membuka jendela dunia dari sisi ilmu pengetahuan, membaca buku juga dapat meningkatkan imajinasi, daya berpikir kritis, serta menjadi jembatan sejarah dan pengalaman manusia dari berbagai zaman.
Karena pada hakikatnya, umur manusia memang singkat, tapi tulisan yang dihasilkannya akan tetap abadi. Termasuk tulisan yang dituangkan dalam sebuah buku.
Lalu, dengan perkembangan teknologi informasi dan internet yang begitu pesat seperti saat ini, apakah buku masih layak disebut sebagai “jendela dunia” layaknya pernyataan dari “bapak pendidikan Amerika” tersebut?
Dilansir dari laman AY Publisher, Kamis (23/4/2026), berikut adalah beberapa penjelasan singkat, terkait perkembangan buku sebagai “jendela dunia” di zaman modern, di tengah gempuran dahsyat dari internet dan segala antek-anteknya.
1. Sumber Pengetahuan Mendalam (Indepth)
Tak seperti internet yang kerap menawarkan informasi singkat dan terkesan bias, buku fisik tetap menawarkan informasi yang dalam serta padat (bahkan ilmiah). Jenis informasi semacam ini sangat sulit ditemukan di artikel-artikel yang bertebaran di internet. Karena informasi di internet memang didesain untuk disajikan secara cepat, sat set, dan terus berkembang tiap menit, bahkan detik.
Ketika informasi disajikan secara cepat seperti itu, pastinya kualitas akan menjadi korban. Sehingga pembaca juga pastinya akan ikut dirugikan. Terutama bagi mereka yang masih membutuhkan literatur resmi dan bersifat ilmiah.
2. Kekuatan Literasi yang Tak (Akan) Tergantikan
Jika berbicara literasi (kemampuan individu mengolah, memahami, dan menggunakan informasi secara kritis melalui aktivitas membaca, menulis, berbicara, menyimak, serta berhitung), maka buku adalah jawaban terbaik untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Setiap kali orang berbicara tentang literasi, maka hampir pasti yang dimaksud adalah membaca buku. Karena tentu saja, buku masih merupakan “jendela dunia” yang tidak akan tergantikan, termasuk oleh kecanggihan internet sekalipun.
Karena yang namanya kecepatan (yang ditawarkan internet) tidak akan mampu mengalahkan keakuratan serta kedalaman informasi, yang dimiliki oleh buku (meskipun diproduksi jauh lebih lambat dari internet).
Tidak hanya itu, membaca buku adalah sarana utama yang mampu membawa pembaca memperoleh wawasan dan petualangan secara intelektual. Sesuatu yang lagi-lagi tidak akan ditemukan dari artikel-artikel di internet.
3. Metafora yang Masih Relevan
“Buku adalah jendela dunia” bisa juga disebut sebagai majas metafora yang menggambarkan buku sebagai alat “pengintip” atau pembuka pengetahuan.
Meskipun terus digempur habis-habisan oleh kehadiran internet, tentu saja majas ini masih tetap valid hingga saat ini, termasuk untuk buku dalam versi cetak (fisik).
4. Tidak Bisa Digantikan (Sepenuhnya) oleh Ebook (“Buku Digital”)
Sebagai salah satu bagian dari perkembangan zaman, sekaligus (katanya) untuk menghemat produksi kertas dan lain-lain, kehadiran buku juga telah “dimodifikasi” ke dalam bentuk “buku digital” (digital book), atau yang disebut juga sebagai ebook (electronic book).
Ebook menawarkan sensasi membaca melalui perangkat digital, seperti komputer/laptop, smartphone, hingga tablet, yang tentu saja dianggap lebih kekinian, sekaligus bersifat canggih/modern.
Namun, buku fisik (yang dicetak melalui kertas) tetap memiliki “aura”-nya tersendiri, yang bahkan tak dapat digantikan oleh buku digital atau ebook sekalipun.
Buku fisik menawarkan pengalaman sensorik, seperti aroma kertas, tekstur halaman (bisa dilipat/disobek, dicoret-coret dengan pensil/pulpen/spidol, dan lain-lain), serta sensasi membalik-balikkan halaman.
Semua hal “klasik” itu tidak akan pernah ditemukan dalam “buku canggih” yang bernama ebook tersebut. Karena yang canggih tidak selamanya baik.
Selain itu, membaca “buku canggih” melalui ebook juga rentan mengalami kelelahan mata, serta potensi distraksi digital (misalnya notifikasi media sosial), dan seterusnya, yang tentunya akan mengurangi keasyikan membaca dan menikmati “jendela dunia” yang terkandung di dalamnya.
Berbeda jauh dengan pengalaman membaca buku secara fisik.
Di perpustakaan saja, jika orang itu benar-benar fokus terhadap bukunya, bisa saja dia akan betah membaca buku tersebut selama berjam-jam lamanya, bahkan sampai membaca satu judul buku secara penuh (atau bahkan lebih).
***
Meskipun dunia terus bergerak secara digital. Pemerintah bergerak secara digital. Jualan bergerak secara digital. Sekolah bergerak secara digital (terutama saat covid). bahkan buku pun juga ikut-ikutan bergerak secara digital. Pokoknya apa-apa semuanya selalu digital. Namun buku fisik tetap tak akan pernah tergantikan sampai kapan pun juga.
Itulah sebabnya, di tengah dunia yang a bergerak serba digital seperti saat ini, elemean-elemen pendukung buku fisik seperti penerbit, percetakan, perpustakaan, peanulis (khusus buku fisik), termasuk jasa print, fotocopy, pembuatan makalah, kliping, jurnal, skripsi, tesis, disertasi, yang biasanya hadir di sekitar kampus maupun sekolah-sekolah, tetap bisa hidup sampai sekarang. Meskipun mengalami sedikit perubahan dan penyesuaian tertentu.
Karena lagi-lagi, yang namanya buku (fisik), tetap tak akan tergantikan sampai kapan pun. Dan akan tetap menjadi “jendela dunia” selama-lamanya. (*)



