Mabur.co- Dalam rangka memperingati Hari Kartini yang jatuh setiap 21 April, Lembaga Teater Perempuan MAS, Teater SANI Yogyakarta, Srikandi Pendapa Ndalem, Sekolah Puisi dan TP PKK Kota Yogyakarta, menggelar Malam Refleksi Kartini dengan tema “Suara yang Tak Pernah Padam”.
Acara berlangsung pada Minggu malam (27/4/2026) di Ruang Bima, Kompleks Pemerintah Kota Yogyakarta, Jalan Kenari, Muja Muju, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, dihadiri oleh tokoh masyarakat, seniman, budayawan dan akademisi yang peduli pada perjuangan emansipasi wanita.
Refleksi pembacaan puisi tersebut di antaranya dilakukan oleh Dwikisworo Setyowireni, Hasto Wardoyo, Dyah Suminar, Herry Zudianto, Sri Surya Widati, Idham Samawi, Retnaningtyas, Yani Saptohoedojo, R.Ay. Sitoresmi Prabuningrat, Aning Ayu Kusumawati, Miftah Bachria Sa’adh, Iriani Pramastuti, Labibah Zain, Anas Purwoputranto, Lisa Pawetriningsih Raminten, Lembaga Teater Perempuan MAS, Sekolah Puisi, Teater SANI Yogyakarta, dan Srikandi Pendapa Ndalem.
Ketua Panitia, Prof. Dr. Yudiaryani, M.A, mengatakan, acara malam refleksi Kartini adalah kesempatan untuk menelusuri perjuangan Kartini.
“Kita menghormati dan mengenang nama besar beliau sebagai tokoh sejarah dan inspirasi. Kartini adalah visi bagi perjuangan wanita Indonesia,” ujarnya.
Yudiaryani menuturkan, Kartini hidup di masa yang penuh keterbatasan bagi perempuan, namun mampu memperjuangkan hak-haknya. Kini, wanita Indonesia menikmati hasil perjuangan tersebut.
“Peran perempuan saat ini sangat penting untuk meneruskan perjuangan tersebut, karena dari perempuan lahir generasi penerus bangsa. Mari kita terus mendoakan para pejuang perempuan,” ucapnya.
Yudiaryani mengatakan, memperingati Hari Kartini juga ibarat hadir kembali untuk menghibur suara yang tak didengar.
“Suara perempuan di Indonesia, berbagai macam kepentingan dalam perjalanan dan kehidupan,” katanya.
Sementara itu, Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengatakan, atas nama Pemerintah Yogyakarta, mengucapkan selamat Hari Kartini.
“Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas peran perempuan yang luar biasa. Perempuan itu luar biasa di atas ekspetasi kita, dari sisi kacamata Pemerintah mengarus-utamakan perempuan itu menjadi satu keniscayaan.
Salah satu syarat untuk menuju Indonesia maju itu ada empat langkah. Langkah pertama meningkatkan kualitas SDM. Langkah kedua SDM yang berkualitas dari pekerja dan produktif. Langkah ketiga harus menciptakan lapangan pekerjaan, dan langkah keempat perempuan harus dibudayakan baru bisa disamakan untuk maju. Ini bukan hanya teori tetapi ini sudah diset di dalam berbagai narasi program renstra rencana strategis pembangunan nasional di berbagai dokumen.
Kenapa langkah keempat ini tidak ketinggalan, yaitu pemberdayaan perempuan? Karena jumlah perempuan dan laki-laki ketika usia SD mirip-mirip, 50-50. Ketika usia SMP masih 50-50.
Nilai 49,5 dibanding 50,05 bisa dibilang. Masih mirip-mirip saja. Tapi begitu usia 55 tahun, maka sudah njomplang. Jumlah laki-laki sedikit turun dan jumlah perempuan proporsinya jadi naik. Kenapa begitu? Karena laki-laki banyak yang mati duluan. Sehingga akhirnya demografi penduduk usia 55, 60, 65, 70 semakin besar perempuannya dibanding laki-lakinya.
Seandainya perempuan ini tidak diberdayakan, maka sangat memengaruhi kesuksesan program pemerintah. Setelah usia 50 tahun benjollah ini apa demografi kita. Ini lebih besar dengan jumlah perempuan,” ucapnya.
Hasto mengatakan, peringatan Hari Kartini ini juga diwarnai dengan memberdayakan perempuan dan sekolah-sekolah lansia. Itu juga isinya nanti 80% adalah perempuan.
“Nah, inilah makanya Hari Kartini kita maknai dengan pemberdayaan perempuan dan malam hari ini para seniman, budayawan hadir untuk kemudian memaknai karena Kota Yogyakarta sebagai Kota Budaya, Kota Wisata dan juga Kota Pelajar,” ucapnya.
Hasto mengatakan, penentu pemilah sampah di Kota Jakarta ternyata juga perempuan.
“Saya merasakan ketika ibu-ibu yang ada di dapur, di rumah tangga menguras sampah dari rumah, maka ternyata sukses. Tapi kalau ibu-ibunya tidak berhati-hati, maka bapaknya memang harus lebih berhati-hati juga. Nah, karena itu saya mengakui, saya pun di rumah masih sering dijauhi sama istri saya,” ucapnya. ***



