Koperasi Merah Putih Berada di Lereng Gunung Prau,Tuai Pro Kontra - Mabur.co

Koperasi Merah Putih Berada di Lereng Gunung Prau,Tuai Pro Kontra

Mabur.co- Sebuah video dan narasi mengenai Koperasi Merah Putih di Desa Kediten, Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal, mendadak viral di media sosial.

Lokasinya yang berada di lereng Gunung Prau memicu berbagai pertanyaan publik, mulai dari kejelasan konsep hingga kritik tajam mengenai efektivitas pengelolaannya.

Dalam narasi yang beredar, koperasi tersebut disindir berpotensi menjadi “tengkulak atau distributor”.

Kritik lain juga menyoroti pembangunannya yang dinilai asal jadi tanpa perencanaan yang matang.

Program Koperasi Desa Merah Putih sendiri terus digalakkan pemerintah dengan tujuan memperkuat ekonomi desa serta mendorong perputaran uang agar tetap berada di tingkat lokal. 

Namun, pembangunan koperasi yang berlokasi di atas bukit ini justru menjadi sorotan publik di media sosial karena dinilai kurang mempertimbangkan aspek lokasi dan pasar.

Sejumlah warganet pun mempertanyakan siapa target pembeli dari koperasi tersebut.

“Izin ini target pasarnya siapa ya? Wisatawan kah, agak kurang nalar sih gue,” tulis akun @miskin_tv.

Komentar serupa juga disampaikan akun lain. “Jauh dari pemukiman desa, berada di puncak gunung. Yang mau beli siapa,” ujar @jsanty26988.

Sementara itu, Kepala Desa Kedaten, Rudi Alfaruq, menegaskan bahwa pemilihan lokasi koperasi di lereng gunung sudah melalui pertimbangan matang.

“Lokasi ini strategis karena berada di jalur yang dilalui masyarakat dari empat dusun, yakni Krajan, Doplang, Kenteng, dan Bukitsari,” ujar Rudi dilansir Kompas.co, Senin (27/4/2026).

Rudi menjelaskan, kondisi geografis Desa Kedaten yang berada di ketinggian 900 hingga 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl) menjadi faktor utama penentuan lokasi.

Mengingat mayoritas warga berprofesi sebagai petani, koperasi dirancang untuk menyediakan kebutuhan primer sektor pertanian.

“Awalnya koperasi akan menyediakan kebutuhan warga, seperti pupuk. Itu yang paling dibutuhkan saat ini,” katanya.

Rudi mengungkapkan bahwa pola konsumsi masyarakat setempat cukup unik. Misalnya, penggunaan gas LPG relatif minim karena warga masih mengandalkan kayu bakar.

Selain itu, nasi jagung masih menjadi makanan pokok utama bagi sebagian besar warga di lereng Prau tersebut.

“Saya berharap koperasi tersebut mampu menjadi solusi pemasaran hasil bumi seperti jagung dan kopi,” katanya.  

Rudi mengatakan, tujuannya agar petani tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke wilayah bawah hanya untuk menjual hasil panen dengan harga yang sering kali dipermainkan pasar.

“Kami ingin koperasi ini bisa membeli hasil tani warga. Jadi petani tidak perlu jauh-jauh menjual ke bawah,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *