Mabur.co – Menteri Haji dan Umrah Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, melakukan kunjungan kerja ke Embarkasi Yogyakarta International Airport (YIA) di Kabupaten Kulon Progo, Jumat (1/5/2026).
Kunjungan dilakukan untuk meninjau langsung proses pemberangkatan ibadah haji di embarkasi berbasis hotel satu-satunya di Indonesia itu.
Dalam kunjungannya, Gus Irfan sapaan akrabnya mengaku, mengapresiasi keberadaan embarkasi YIA yang menggunakan sistem berbasis hotel.
Ia menyebut, embarkasi semacam ini bisa menjadi solusi bagi daerah-daerah lain di Indonesia yang ingin memiliki embarkasi namun tidak memiliki asrama haji.
“Ini akan jadi pilot project daerah-daerah lain yang ingin punya embarkasi tapi tidak punya asrama haji. Kalau ini berhasil akan kita tambah jumlahnya,” ujarnya.
Menurut Gus Irfan, dengan sistem berbasis hotel, proses pemberangkatan jemaah haji akan bisa lebih hemat dari sisi anggaran.
Karena tidak perlu membangun asrama haji yang membutuhkan anggaran pembangunan maupun perawatan yang tidak murah.
“Membangun asrama haji tidak gampang, tidak murah dan lebih tidak mudah lagi pemeliharaannya. Karena itu embarkasi berbasis hotel ini bisa menjadi solusi,” katanya.
Lebih lanjut Menhaj juga menyatakan berdasarkan pengalaman yang ada, beberapa asrama haji yang telah dibangun dengan biaya mahal, justru tidak berjalan efisien karena membutuhkan biaya perawatan yang mahal.
“Kita lihat asrama yang megah seperti di Indramayu misalnya. Saya lihat besar sekali. Tapi berapa biaya dan bagaimana perawatannya tentu menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya.
Selain memberikan sambutan dalam acara pelepasan jemaah haji kloter 8 asal Bantul, dalam kesempatan itu sendiri Menhaj juga menyempatkan diri untuk berdialog dengan sejumlah jemaah.
Ia pun berharap seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah haji secara tertib, lancar, sehingga bisa kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur.
Embarkasi YIA sendiri dijadwalkan melayani sebanyak 9.320 jemaah haji di tahun ini.
Jumlah tersebut terbagi dalam 26 kloter. Dimana sebanyak 3.828 jemaah berasal dari DIY, sementara 5.492 lainnya berasal dari wilayah Jawa Tengah bagian selatan.



