Mabur.co – Di zaman yang serba canggih dan cepat seperti ini, manusia semakin dituntut untuk melakukan banyak pekerjaan atau tugas yang seolah tiada habisnya.
Apalagi dengan kehadiran teknologi, khususnya media sosial, membuat arus komunikasi yang dialami manusia sering kali terpecah, alias terbagi dua, antara dunia nyata (pertemuan fisik) dengan dunia maya (digital).
Baik di dunia nyata maupun digital (maya), semuanya pasti ingin direspons dengan cepat, lugas, benar, dan sesuai dengan keinginan mereka masing-masing.
Begitu pun saat melakukan pekerjaan, mengirimkan laporan, foto, video, mengupload atau mendownload sebuah file, dan seterusnya.
Seolah-olah semua hal harus benar-benar dieksekusi dengan cepat dan tepat, dan dilakukan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Padahal, di belahan dunia mana pun, waktu yang dimiliki oleh semua manusia tetaplah sama, yakni 24 jam dan 7 hari dalam seminggu.
Di situlah kemudian muncul istilah multitasking, yakni mengerjakan banyak pekerjaan atau tugas (doing multiple task) dalam satu waktu yang bersamaan.
Dilansir dari laman Medium, istilah ini muncul pertama kali dalam jurnal publikasi IBM (International Business Machines Corporation) pada 1960-an silam, untuk menggambarkan kemampuan mesin komputer (seperti IBM System/360) dalam menangani beberapa tugas sekaligus. Istilah ini kemudian diadopsi oleh manusia pada akhir 1990-an, seiring dengan meningkatnya tingginya budaya kerja 24/7 (nonstop).
Meskipun istilah multitasking terdengar keren atau hebat, karena dianggap mampu melakukan banyak tugas di waktu yang bersamaan, namun sejatinya, hal itu tidaklah benar-benar berlaku.
Karena kodrat manusia memang tidak pernah didesain untuk melakukan multitasking layaknya komputer keluaran IBM tersebut.
Otak manusia juga pada dasarnya telah didesain untuk hanya melakukan single-tasking (satu tugas dalam satu waktu), bukan multitasking.
Multitasking sendiri sebenarnya tidak pernah ada dalam istilah manusia, karena yang sesungguhnya terjadi adalah context switching, atau beralih tugas dengan cepat. Ini pun juga sebetulnya tidak baik jika dilakukan terus-menerus, karena bisa memicu kelelahan mental, menurunkan produktivitas hingga (40%), serta meningkatkan risiko stres.
Lagi pula dalam banyak kasus, melakukan multitasking (atau context switching tadi) justru tidak membuat semua pekerjaannya terselesaikan dengan baik. Karena yang lebih sering terjadi adalah penumpukan pekerjaan yang pending, alias tertunda-tunda.
Dilansir dari laman Halodoc, Senin (11/5/2026), berikut adalah beberapa alasan mengapa manusia memang tidak pernah didesain untuk melakukan multitasking, layaknya komputer atau mesin.
1. Ilusi Produktivitas
Saat manusia melakukan dua hal sekaligus (seperti menelepon sambil membalas email), otak sebenarnya hanya berganti fokus dengan sangat cepat, atau context switching tadi. Kegiatan ini akan lebih cepat menghabiskan energi mental, dan justru memakan waktu lebih lama (untuk menyelesaikan keduanya di saat yang sama), daripada saat melakukannya satu per satu.
Misalnya fokus membalas email terlebih dahulu, baru setelah itu menelepon (berbincang dengan orang lain), dan seterusnya.
2. Biaya Peralihan (Switching Cost)
Secepat-cepatnya otak bereksi atau bekerja saat melakukan context switching, otak tetap membutuhkan waktu. Biasanya sekitar 23 menit, untuk kembali ke fokus mendalam terhadap suatu tugas, setelah sebelumnya terganggu oleh tugas lain.
3. Residu Atensi
Menurut Pakar Produktivitas dan Self-Leadership Coach, Darmawan Aji, penerapan multitasking akan membuat sisa perhatian dari tugas sebelumnya akan tertinggal (tidak terselesaikan), saat kita beralih ke tugas baru, yang sudah pasti akan menurunkan kualitas kinerja pada tugas kedua.
Misalnya saat seseorang menelepon sambil membalas email. Orang itu pasti akan lebih fokus ke salah satu dari keduanya. Jika obrolan di telepon lebih asik, maka dia akan lebih meneruskan telepon ketimbang membalas email.
Namun jika obrolan teleponnya membosankan, tapi email yang dibalas sangat penting, apalagi jika berhubungan dengan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk pencairan gaji, dan seterusnya, maka teleponnya pasti akan ditinggal, atau bahkan dimatikan terlebih dahulu, dan seterusnya.
4. Kelelahan Otak & Stres
Memaksa otak berpindah fokus secara cepat (context switching) dan dilakukan terus-menerus dapat melepaskan hormon kortisol, menyebabkan stres, kecemasan, dan kelelahan mental.
Selain itu, dua atau lebih pekerjaan yang dilakukan juga cenderung tidak akan selesai, atau setidaknya tidak terselesaikan dengan baik.
5. Penurunan Kreativitas & Memori
Menurut salah satu artikel di Masoem University, melakukan multitasking juga berpotensi menghambat kemampuan otak untuk berpikir kreatif, serta merusak memori dalam jangka panjang.
***
Tips Meningkatkan Produktivitas Tanpa Multitasking
Mengingat multitasking adalah kemustahilan dalam diri dan otak manusia, inilah beberapa tips sederhana yang bisa dilakukan, untuk tetap meningkatkan produktivitas dalam bekerja, tanpa harus melakukannya di waktu yang bersamaan.
1. Fokus Satu Pekerjaan dalam Satu Waktu
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, otak manusia didesain untuk single-tasking, bukan multitasking. Dalam single-tasking tersebut, pastikan fokus terhadap task (pekerjaan) yang sedang dilakukan, tanpa banyak berpindah-pindah tugas atau melakukan hal lainnya di luar tugas utama yang sedang dikerjakan.
Contoh yang paling sederhana tentu saja ketika bermain hape.
Bermain hape (dengan segala kecanggihan dan fasilitas di dalamnya) adalah distraksi terbesar yang dialami oleh manusia di zaman ini. Dengan bermain hape saat fokus mengerjakan tugas lainnya, maka tugas sebelumnya pasti akan terhambat, tidak terselesaikan, dan seterusnya. Karena sudah terlalu asik dengan distraksinya tersebut.
2. Batasi Gangguan
Mirip seperti penjelasan sebelumnya. Hape sudah jelas menjadi gangguan terbesar yang harus dihadapi oleh manusia di zaman sekarang. Sehingga mau tidak mau, jika ingin tetap produktif, alat yang satu ini harus dikorbankan terlebih dahulu. Salah satunya dengan mematikan notifikasi HP, dan cari tempat yang lebih tenang untuk bekerja dan bisa kembali fokus melakukan single-tasking tadi.
3. Kelompokkan Tugas
Anda juga bisa menjadwalkan waktu tertentu, untuk mengerjakan tugas-tugas serupa di kemudian hari. Intinya adalah tidak melakukannya di satu waktu secara bersamaan.
4. Istirahat Secara Teratur
Selain tidak dirancang melakukan multitasking, otak juga tidak dirancang untuk fokus penuh selama berjam-jam, apalagi dalam 24 jam 7 hari berturut-turut.
Istirahat tetap menjadi bagian yang sangat penting, untuk dapat meningkatkan produktivitas seseorang saat bekerja.
Dan bentuk istirahat yang terbaik tentu saja adalah tidur, bukan dengan bermain hape apalagi pergi-pergi keluar yang tidak jelas dan menghabiskan biaya.
5. Maksimalkan Manajemen Waktu
Manajemen waktu juga penting dalam meningkatkan produktivitas saat melakukan single-tasking. Sehingga waktu untuk mengerjakan tugas ke satu, tugas kedua, ketiga, istirahat, makan, tidur, dan seterusnya, semuanya sudah dirancang dengan baik sedemikian rupa, sehingga tenaga dan pikiran tetap terjaga dengan sebaik mungkin, untuk bisa menghasilkan produktivitas terbaik dalam diri masing-masing.
***
Jangan sampai Anda “dibodoh-bodohi” oleh orang lain, jika disuruh melakukan multitasking. Selain metode itu tidak pernah ada, multitasking yang sesungguhnya hanya terjadi dalam dunia komputer, bukan pada manusia.
Secanggih-canggihnya komputer atau teknologi sekalipun, jika terus dipaksakan melakukan multitasking (misalnya membuka banyak aplikasi sekaligus tanpa menutup yang tidak terpakai sama sekali), tetap saja akan hang atau rusak pada waktunya.
Karena mesin semacam itu pun tetap memiliki limit, atau batasan pekerjaan yang bisa dilakukan di waktu yang sama. Apalagi pada manusia, yang memang dari sononya tidak pernah didesain untuk melakukan banyak tugas secara bersamaan. (*)




