Oleh: Azka Qintory
Mabur.co – Dalam debat Presiden yang berlangsung pada Januari 2024 lalu, sebelum pelaksanaan Pemilu serentak 2024, Presiden Prabowo (saat itu masih calon), pernah bilang bahwa ia ingin memberikan program makan serta internet gratis bagi rakyatnya.Tidak disebutkan secara spesifik soal siapa yang berhak menerima program tersebut.
Awalnya saya menyambut dengan cukup gembira dengan wacana program tersebut. Meskipun saya yakin, yang namanya wacana pada saat kampanye maupun debat pilpres, biasanya hanya akan jadi angin lalu yang terlupakan begitu saja, termasuk oleh si pembuat wacana itu sendiri.
Setelah si pembuat wacana tersebut akhirnya terpilih menjadi presiden, saya sudah pasrah bahwa program ini hanya akan menjadi wacana angin lalu, alias tidak benar-benar terealisasikan.
Berselang hampir satu tahun kemudian, muncul pemberitaan bahwa program makan gratis akan segera dihadirkan pada awal tahun 2025. Sayangnya, program ini hanya diperuntukkan bagi anak-anak sekolah mulai dari TK hingga SMA sederajat. Tidak ada sama sekali bagi orang-orang dewasa seperti saya.
Dari situ saya sudah merasa kecewa, sebab ternyata program ini hanya berlaku untuk anak-anak sekolah, bukan untuk seluruh 280 juta penduduk Indonesia, kecuali pejabatnya, yang merancang program ini di balik layar.
Banyak Kasus Bermunculan
Dalam program yang kemudian diberi nama MBG (Makan Bergizi Gratis) ini, seiring berjalannya waktu, rupanya banyak ditemukan kejanggalan, baik dari proses pembuatannya, distribusinya, hingga saat makanan bergizi ini sampai ke ruang-ruang kelas dan siap disantap oleh siswa-siswi.
Menurut laporan dari BBC Indonesia, berbagai kasus pun mewarnai kehadiran MBG selama setahun terakhir, seperti siswa keracunan, makanan ditemukan basi, tidak higienis, hingga sejumlah kantin yang terpaksa tutup karena sepi pembeli akibat siswa lebih memilih makan dari program MBG.
Mendengar beberapa kasus di atas, tentu saya tidak merasa heran, karena inilah Indonesia. Tidak pernah ada program yang benar-benar berhasil 100% diimplementasikan ke seluruh pelosok negeri, sekalipun tujuannya sangatlah baik.
Manakala program ini hanya berlaku untuk anak-anak sekolah saja, sudah begitu ruwet dan melelahkan seperti ini, bayangkan jika MBG benar-benar diaplikasikan kepada seluruh 280 juta rakyat Indonesia minus pejabatnya. Sudah tidak bisa dihitung lagi berapa banyak kasus yang akan terjadi nantinya.
Bahkan menurut laporan dari Tempo pada akhir tahun lalu, saking ruwetnya pelaksanaan MBG, Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya menghentikan sementara pendistribusian MBG, yang juga bertepatan dengan masa libur sekolah. BGN beranggapan bahwa hal ini diperlukan untuk memastikan pelaksanaan MBG pada tahun 2026 dapat berjalan dengan lebih optimal dan aman, terutama dari aspek kualitas serta logistik.
Pada akhirnya, makan gratis ataupun tidak, kita semua tetap harus bekerja keras untuk menghidupi diri kita sendiri. Pemerintah pun tidak sepenuhnya sanggup menanggung beban perut 280 juta rakyat Indonesia. Karena menanggung perut anak-anak sekolah yang jumlahnya sekitar 53 juta saja, pemerintah masih susah payah untuk melakukannya.
Satu hal lagi, jangan pernah berharap bahwa program baru di Indonesia akan berjalan sukses 100% tanpa masalah, karena itu hampir dipastikan mustahil. (*)
Azka Qintory, jurnalis Mabur.co



