Recik, Permainan Tradisional yang Menyimpan Jejak Sejarah Kolonial - Mabur.co

Recik, Permainan Tradisional yang Menyimpan Jejak Sejarah Kolonial

Mabur.co – Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal memiliki beragam permainan tradisional yang tumbuh bersama kehidupan masyarakat desa. Beragam permainan tradisional itu tak hanya menjadi sarana hiburan bagi masyarakat, tetapi juga bagian dari proses pembentukan nilai sosial dan budaya. 

Meski semakin jarang, salah satu permainan tradisional yang sampai kini masih bisa dijumpai adalah recik. Recik merupakan permainan tradisiobal beregu yang diyakini telah ada sejak masa penjajahan di era pemerintahan kolonial. Di Kabupaten Kulon Progo, tepatnya di Desa Salamrejo, Sentolo, permainan ini masih kerap dijumpai dengan dimainkan oleh anak-anak.

Menurut Suharyanto, pembina permainan tradisional asal Kalurahan Salamrejo, Kapanewon Sentolo, Kulon Progo, recik pertama kali diperkenalkan oleh para tentara Inggris atau Belanda yang bertugas di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, sebelum akhirnya diadaptasi oleh masyarakat lokal dan dimainkan secara luas oleh anak-anak di pedesaan.

Sejumlah anak-anak di desa Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo, tengah memainkan permainan tradisional Recik (foto : JH Kusmargana)

Ia menyebut istilah recik memiliki kaitan erat dengan bahasa asing yakni re-safe.

“Recik itu diyakini berasal dari kata re-safe, artinya kembali dengan selamat. Istilah itu kemudian dilafalkan ulang oleh anak-anak di sini dan akhirnya dikenal sebagai recik,” ujar Suharyanto.

Proses adaptasi tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat lokal mengolah pengaruh budaya luar menjadi bagian dari tradisi sendiri. Recik kemudian dimainkan di ruang-ruang terbuka yang tersedia di desa, seperti halaman rumah, lapangan, maupun area persawahan, yang pada masa lalu masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Suharyanto menjelaskan permainan recik dimainkan oleh dua kelompok, masing-masing beranggotakan empat hingga lima anak. Arena permainan berupa lapangan terbuka berukuran sekitar delapan hingga sepuluh depa, dengan empat gerbang yang biasanya ditandai menggunakan batok kelapa. Satu tim bertugas sebagai penyerang yang harus melewati seluruh gerbang, sementara tim lainnya berperan sebagai penjaga yang menghadang pergerakan lawan.

Sistem penilaian dalam permainan ini cukup tegas. Tim penyerang akan memperoleh tiga poin apabila berhasil melewati seluruh gerbang dan kembali ke garis awal tanpa tersentuh atau melanggar batas. Sebaliknya, jika gagal, poin satu akan diberikan kepada tim penjaga. Kedua tim kemudian bertukar peran secara bergantian.

Suharyanto, pegiat permainan tradisional asal Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo (foto : JH Kusmargana)

Meski sekilas mirip dengan permainan gobak sodor, recik memiliki perbedaan mendasar dalam aturan permainan.

“Kalau gobak sodor aturannya lebih longgar. Recik ini aturannya lebih ketat, setiap gerakan harus sesuai garis dan posisi pemain sudah ditentukan,” jelasnya.

Ketatnya aturan tersebut menuntut ketangkasan, kelincahan, dan kerja sama yang solid antarpemain.

Menurut Suharyanto, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan individu, tetapi juga kekompakan tim.

“Semakin kompak sebuah tim, semakin besar peluang untuk bisa melewati hadangan lawan dan menang,” katanya.

Dalam konteks budaya masyarakat Yogyakarta, recik bukan sekadar permainan anak-anak, tetapi juga media pembelajaran sosial. Melalui permainan ini, anak-anak dapat untuk saling belajar bekerja sama, mematuhi aturan, serta menghargai lawan. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan budaya masyarakat pedesaan yang menjunjung kebersamaan dan disiplin sosial.

Namun, perubahan zaman membuat permainan ini kini semakin jarang dimainkan. Minimnya ruang terbuka dan dominasi permainan digital menyebabkan recik mulai ditinggalkan generasi muda. Saat ini, recik lebih sering diperkenalkan kembali melalui kegiatan pelestarian budaya, festival permainan tradisional, atau program edukasi di tingkat desa dan sekolah.

Tanpa adanya upaya-upaya pengenalan sejak dini semacam ini, permainan tradisional seperti recik sangat mungkin hilang di masa mendatang. Padahal permainan tradisional seperti recil menyimpan nilai-nilai sejarah dan budaya yang penting untuk diwariskan pada anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa.

Keberadaan recik menjadi pengingat bahwa jejak sejarah kolonial tidak hanya tercermin pada bangunan atau dokumen semata, tetapi juga dapat hidup dalam praktik budaya masyarakat. Sehingga upaya pelestarian menjadi kunci agar permainan tradisional ini tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *