Jule dan Kutukan Gen Z


Setiap ulah selebgram, artis, atau orang tenar lain dengan segala polah tingkahnya, entah itu Jule, Jupe, atau Madonna, selalu mengundang decak. Di dalam decak yang tergumamkan ada nilai keterkejutan, penasaran, takjub, umpatan, atau apa pun saja. Artinya dari setiap bibir yang berdecak belum tentu berujung kagum. Bisa saja interpretatif nilainya.

Ketika orang yang mengundang mulut berdecak itu mengumbar sensasi, entah terkait kekayaan, busana, pasangan hidup, kendaraan, atau apa pun, masyarakat bisa saja terbius. Berhari-hari, berbulan-bulan, dan bisa bertahun-tahun mendecakkan mulut saat sosok itu nongol.

Artis Madonna, misalnya, yang sudah usia uzur itu (harusnya sudah melampaui masa menopause cukup lama), apa pun yang dilakukan di mata publik tetap mengundang decak. Di situlah nilai fantastis sosok public figure yang jika dihargai entah berapa nominalnya. Namun tetap saja menarik, meskipun sensasi yang dibuat dengan mengundang decak adalah sensasi murahan.

Kita, sebagai bagian dari masyarakat yang bisa saja ikut-ikutan berdecak, juga harus selalu menemukan ruang katarsis atau kepuasan tersendiri dan bisa saja ikut-ikutan lebay untuk mencibir, mengagumi, mengamini, atau mendistorsi si produsen decak itu.

Tanpa kita sadari bukankah sebenarnya kita hidup dalam selubung dunia citra? Di masa kini dunia citra itu direproduksi dalam beragam bentuk media, beragam dalih, beragam alasan, beragam politik, beragam kepentingan yang ujung-ujungnya adalah memanen popularitas. Yang terpenting sebenarnya, kita harusnya memahami dalam posisi seperti apa kini dunia yang mengepung kita menghadirkan dirinya.

Apakah kita menyadari sedang berada dalam dunia yang mau berkompromi dengan cita-cita kita? Atau justru dunia yang melingkupi kita adalah dunia yang menghambat kebahagiaan kita?

Artinya, sebenarnya semuanya hanyalah hiburan. Medan senda gurau. Kita bisa memandang dengan bersendawa, sembari kentut, atau sambil memikirkan jodoh yang tidak jelas kapan datangnya. Kalau kita sudah sampai pada maqam persepsi itu, bisa jadi makrifat gaya hidup sudah selesai kita pahami.

Tapi, apakah Gen Z mau berkompromi dengan pandangan semacam ini? Bukankah mereka belum puas menjadi korban kebiadaban citra, sensasi, dan senda gurau gaya hidup? Bukankah Gen Z belum puas menjalani kutukan zaman?
***
Tahun 2009 buku kumpulan esai sosial, politik, dan budaya saya terbit dengan judul Menu Celana Dalam. Diterbitkan sebuah penerbit buku kesayangan saya di Yogyakarta. Buku itu bisa terbit karena Mas Direktur memesan tema kepada saya soal tren pergeseran berbusana masyarakat yang suka nongkrong di mal atau kafe.

Buku Menu Celana Dalam karya Satmoko Budi Santoso

Mas Direktur memaparkan amatannya kepada saya bahwa saat itu cewek yang suka nongkrong di kafe atau mal sudah tidak malu lagi menggunakan tank top atau kaos ketat yang bawahannya hanya sampai pusar. Otomatis kalau untuk duduk dan dilihat dari belakang maka punggung bawahnya jadi kelihatan kulitnya. Nah, kalau dipakai duduk maka akan menyembullah celana dalam bagian atas yang sedang dipakai.


Saya pun menyampaikan kepada Mas Direktur agar buku saya itu berjudul Menu Celana Dalam sebab sebagai representasi refleksi gaya hidup mutakhir yang sudah tidak malu lagi memamerkan celana dalam yang menyembul di punggung bawah dekat pantat. Aduhai indahnya!

Saya puas dengan lahirnya buku itu sambil merasakan narsis total bahwa buku itu memang berhasil merekam jiwa zaman yang sedang bergolak saat itu. Rupanya saya sudah boleh sombong bahwa buku itu mungkin saja setara dengan buku Sebuah Dunia yang Dilipat karya Yasraf Amir Piliang atau buku kumpulan esai para pengamat gaya hidup berjudul Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia.

Dua buku yang terbit sebelum tahun 2000 dan menjadi kawan intim saya dalam memahami pergeseran jiwa zaman melalui pergolakan identitas di bidang teknologi, filsafat, busana, makanan, buku, dan banyak lagi lainnya. ***

Satmoko Budi Santoso, jurnalis dan sastrawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *