Tahukah Kamu, Bahasa Jawa adalah Bahasa Paling Unik dan Rumit di Dunia - Mabur.co

Tahukah Kamu, Bahasa Jawa adalah Bahasa Paling Unik dan Rumit di Dunia

Mabur.co – Bahasa Jawa dikenal sebagai salah satu bahasa dengan sistem tutur paling kompleks di dunia. Bahasa ini memiliki tingkatan unggah-ungguh, mulai dari ngoko, krama madya, hingga krama inggil. Sistem ini bukan sekadar aturan bahasa, tetapi mencerminkan nilai penghormatan, etika, dan kesadaran posisi diri dalam kehidupan sosial.

Penulis buku kondang, Salim A. Fillah menilai, bahasa Jawa sebagai bahasa paling unik di dunia. Di mana bahasa ini sangat lekat dengan karakter. Penggunaan bahasa yang tepat melatih seseorang untuk menghormati orang lain, sekaligus menumbuhkan sikap rendah hati. Menurutnya, cara anak berbicara kepada orang tua dengan bahasa yang halus adalah bentuk nyata bakti yang lahir dari kesadaran batin.

Dalam budaya Jawa, tutur kata menjadi cerminan kepribadian. Seseorang dinilai dari kemampuannya bersikap “mapan” atau tahu tempat, serta “pantes” atau pantas dalam bertindak. Ketepatan memilih kata menunjukkan kedewasaan spiritual dan sosial.

Bahasa Jawa juga dikenal sangat kaya kosakata. Untuk menggambarkan kata “jatuh”, misalnya, terdapat berbagai istilah seperti tiba, kecemplung, ngglundung, kebanting, dan lainnya. Kekayaan istilah ini menunjukkan ketelitian masyarakat Jawa dalam mengamati peristiwa, sekaligus membentuk sikap hati-hati dan penuh pertimbangan.

Meski memiliki lebih dari 80 juta penutur, penggunaan bahasa Jawa halus, khususnya krama inggil, kini semakin jarang dijumpai. Kondisi ini paling terasa di kalangan generasi muda. Modernisasi, perubahan pola komunikasi, serta minimnya penggunaan bahasa Jawa halus di lingkungan keluarga dan sekolah menjadi faktor utama penyebabnya.

Untuk mencegah semakin hilangnya krama inggil, berbagai pihak melakukan langkah pelestarian. Pemerintah daerah, lembaga budaya, hingga komunitas masyarakat menggelar berbagai kegiatan seperti festival budaya, pendidikan muatan lokal, serta lomba-lomba kesenian dan sastra Jawa.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, pelestarian bahasa Jawa juga didukung melalui dana keistimewaan. Di Kabupaten Kulon Progo, penggunaan bahasa Jawa diterapkan dalam kegiatan resmi, termasuk upacara dan rapat pada peringatan Hari Jadi daerah.

Selain itu, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kulon Progo secara rutin menggelar Lomba Budaya Mataraman tingkat kabupaten setiap tahun.

Kasi Kelembagaan dan Kurikulum Peserta Didik SMP Disdikpora Kulon Progo, Dwi Wulandari, mengatakan lomba tersebut bertujuan menumbuhkan kecintaan siswa terhadap adat dan budaya Jawa.

“Melalui lomba ini, kami ingin menanamkan kecintaan sekaligus melestarikan adat dan budaya Jawa di kalangan pelajar. Kegiatan ini melombakan berbagai keterampilan budaya Mataraman, mulai dari kriya, krida, seni, hingga sastra,” ujar Dwi.

Pada bidang sastra, para siswa beradu kemampuan membaca geguritan, puisi Jawa yang sarat nilai dan makna. Menurut Dwi, kegiatan ini menjadi bagian dari pendidikan karakter sekaligus upaya pelestarian budaya.

“Anak-anak tidak hanya mengenal budaya mereka sendiri, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung. Harapannya, rasa cinta dan kepedulian terhadap budaya Jawa terus tumbuh hingga mereka dewasa,” tambahnya.

Upaya pelestarian ini diharapkan mampu menjaga keberlangsungan bahasa Jawa, khususnya krama inggil, agar tetap hidup dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh generasi mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *