1 Suro Warga Mudal Lestarikan Budaya ‘Nguras Umbul’

4 Min Read
Two people kneeling by a shallow pool in a courtyard, petals scattered on a turquoise mosaic floor under a red-and-white canopy.
Umbul Mudal di Kalurahan Sariharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman ada sekitar 1980-an. Umbul Mudal ini spesial lantaran masih berada di wilayah perkotaan. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Mabur.co- Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1448 Hijirah dan Tahun baru Jawa (Suro) 1960, Warga Mudal, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Selasa (16/6/2026) mengadakan kegiatan kirab budaya dan nguras umbul Mudal.

Sesepuh Dusun Mudal, Sumantoro mengatakan, kegiatan ini, sebagai bentuk nguri-uri budaya, warga Dusun Mudal, Kalurahan Sariharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman melakukan tradisi Nguras Umbul. Bagi warga Mudal, kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan mata air.

Group of people in traditional clothing exchanging flower garlands in a doorway setting.
Seorang warga sedang mengikuti prosesi Nguras Umbul Mudal. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Sebelum kirab budaya dan nguras umbul Mudal, Senin (15/6/2026),malam, diadakan pengajian dan menggelar doa bersama memperingati tahun baru Islam.

Pagi hari, Selasa (16/6/2026), diadakan kirab budaya dengan membawa gunungan.

Generasi Muda Biar Saja Tahu

”Mudah-mudahan dengan kita jadikan acara tersebut nantinya generasi muda bisa tahu kalau di Mudal Sariharjo, Ngaglik, Sleman, ada tradisi kirab budaya dan nguras umbul yang sudah dilestarikan,” katanya.

Sumantoro mengatakan,  Umbul Mudal ada sekitar 1980-an. Umbul Mudal ini spesial lantaran masih berada di wilayah perkotaan.

“Ini merupakan sebuah anugerah tersendiri, karena umumnya sumber air hanya muncul di lereng jurang, pegunungan, atau di sekitar pohon besar. Pohon di sekitar umbul kami tebang juga tidak masalah,” tuturnya.

Group of women in matching maroon outfits and black hijabs stand outdoors, each holding a decorated pot with white flower garlands.
Warga sedang membawa kendi berisi air dari Umbul Mudal. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Sumantoro menceritakan, bahwa mata air umbul ini pernah mati selama sebulan setelah dibersihkan lima tahun lalu.

Menurutnya, ini disebabkan karena pasir di sekitar sumber air yang dibuang.

“Pasirnya ada sekitar lima bakul. Ketika dikembalikan, selang beberapa menit, airnya muncul lagi,” ucapnya.

Sumantoro mengungkapkan, prosesi pembersihan umbul ini mesti dilakukan hati-hati. Karena, mata air yang muncul di permukaan ini sendiri memiliki debit 150-200 liter per menit.

Kini Umbul Mudal dialirkan ke 40 rumah sebagai sumber air tambahan. Disediakan pula kolam yang bebas digunakan untuk mandi.

“Tapi enggak boleh pakai sabun,” katanya.

Sumantoro menjelaskan, Umbul Mudal dibersihkan tiap satu minggu sekali.

“Airnya mengandung garam jadi harus sering dikuras karena berkerak,” sebutnya.

Group of women in colorful hijabs and traditional clothing standing under a metal canopy, observing several potted plants on a concrete surface.
Seorang warga sedang menyiram tanaman dari air hasil nguras umbul. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Sumantoro mengatakan, banyak orang yang mengambil air sekaligus mandi di kolam karena air dari umbul dipercaya bisa menyembuhkan penyakit.

“Warga Mudal, akan terus berupaya melestarikan budaya di umbul sekaligus menjaga kelestarian mata air ini,” katanya.

Sesepuh Dusun Mudal Sumantoro. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Sumantoro mengatakan, Tahun baru Jawa (Suro) 1960, bagi saya bentuk syukur kepada Tuhan, sudah diberikan umur panjang, diberi kesehatan, diberi kemampuan untuk masih sampai sekarang ini.

Satu Suro adalah momen refleksi untuk memperoleh keselamatan, mensucikan batin, dan memohon berkah. “Momen ini menjadi cerminan untuk membuang sifat buruk dan memulai lembaran baru dengan spiritualitas yang lebih baik,” katanya.

Salah satu warga Ari Setyawan mengatakan, Tradisi Nguras Umbul yang digelar hari ini, bukan sekadar kegiatan membersihkan sumber mata air semata, melainkan sebuah wujud nyata dari kearifan lokal masyarakat Jawa yang sarat makna.

“Dalam kehidupan masyarakat Jawa dikenal falsafah Memayu Hayuning Bawono yang mengajarkan kepada kita semua untuk senantiasa memperindah, menjaga dan melestarikan kehidupan dunia beserta isinya,” katanya.

People in colorful outfits lift a tall fruit-and-vegetable tower featuring a pineapple and red peppers during a street celebration, with festive flags overhead.
Warga Mudal Sariharjo Ngaglik Sleman sedang berebutan gunungan berisi sayuran dan buah-buahan. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Ari mengatakan, tradisi nguras umbul adalah salah satu bentuk nyata menjaga sumber kehidupan agar tetap lestari dan memberi manfaat bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Sebagaimana kita ketahui bersama, air adalah sumber kehidupan.

“Dalam kearifan lokal masyarakat Jawa mata air atau umbul memiliki nilai sakral karena menjadi penopang kehidupan sehari-hari baik untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian maupun lingkungan,” katanya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment