Azan Tumbal, Tradisi Unik Warga Giriloyo di Awal Bulan Suro

3 Min Read
Silhouette of a man talking on a mobile phone against a vibrant sunset sky with orange and purple clouds.
Ilustrasi. Seseorang sedang mengumandangkan azan. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, bulan Suro merupakan bulan spesial yang memiliki makna khusus dibanding bulan-bulan lainnya.

Di bulan ‘keramat’ inilah banyak masyarakat Jawa menggelar berbagai macam acara ritual tradisi yang sudah berlangsung selama ratusan tahun, dan diwariskan secara turun-temurun. 

Di Dusun Giriloyo, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Bantul, terdapat sebuah tradisi unik setiap bulan Suro, yang sangat jarang ditemui di daerah lainnya. Tradisi itu disebut Azan Tumbal.

Tradisi ini dilaksanakan selama tiga malam berturut-turut, tepatnya pada malam pertama hingga malam ketiga bulan Suro. 

Setiap selesai salat Magrib hingga menjelang Isya, warga akan berkumpul di halaman masjid, musala, maupun lapangan untuk melantunkan azan secara bersama-sama.

Setelah melantunkan azan, warga biasanya akan melakukan ritual berupa pembacaan doa penolak bala serta memohon keselamatan secara bersama-sama.

Harapan Jauh dari Bencana

Bagi masyarakat Giriloyo, tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan. Azan Tumbal merupakan ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT agar dijauhkan dari berbagai mara bahaya dan bencana.

Asal muasal tradisi Azan Tumbal ini tak lepas dari kepercayaan warga setempat yang menganggap bulan Suro sebagai bulan yang memiliki karakter berbeda dibanding bulan-bulan lainnya. 

Pasalnya bulan pertama dalam kalender Jawa ini sering dianggap sebagai bulan keramat atau bulan sakral yang rentan terhadap datangnya berbagai musibah dan mara bahaya. 

Karena itulah, tradisi Azan Tumbal ini dilakukan. Dimana kumandang azan yang dipanjatkan secara bersama-sama dan dilanjutkan dengan doa bersama diyakini dapat menjadi sarana penolak bala sekaligus pelindung bagi seluruh warga desa dari berbagai macam mara bahaya yang tidak diinginkan.

Setelah rangkaian doa selesai, warga biasanya akan melanjutkan kegiatan dengan sedekahan dan selamatan. Dimana masing-masing keluarga akan membawa berbagai macam makanan untuk dimakan secara bersama-sama. 

Selain digelar sebagai upaya melestarikan tradisi leluhur, Azan Tumbal ini juga rutin dilaksanakan sebagai sarana dalam mempererat hubungan antarwarga dan memperkuat rasa kebersamaan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Riset Azan Tumbal

Tradisi Azan Tumbal sendiri pernah menjadi objek penelitian Desi Hapsari Arisandi, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Dalam skripsinya sebagaimana dikutip dari digilib.uin-suka.ac.id , ia mengkaji latar belakang, makna, dan fungsi tradisi tersebut bagi masyarakat Giriloyo menggunakan teori fungsionalisme kebudayaan yang dikemukakan antropolog Bronislaw Malinowski.

Menurut Malinowski, setiap unsur kebudayaan yang hidup dalam masyarakat memiliki fungsi sosial tertentu. Tradisi, perilaku, maupun pranata sosial tidak hadir tanpa makna, melainkan memiliki peran dalam menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, Desi menemukan bahwa Azan Tumbal tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan untuk memohon keselamatan.

Lebih dari itu, tradisi tersebut juga menjadi perekat sosial yang memperkuat solidaritas masyarakat serta menjaga keberlangsungan warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment