Fenomena Sekolah Online dan Komersialisasi Pendidikan

Mabur.co – Sejak era COVID-19 pada 2020 lalu, sekolah online atau sekolah digital seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia pendidikan di tanah air.

Platform-platform seperti Ruangguru, Zenius, hingga konten kreator seperti Satu Persen YouTube channel, adalah beberapa contoh sekolah online di Indonesia, yang telah mewarnai kehidupan masyarakat di ruang-ruang digital sehari-hari.

Jika selama ini sekolah formal atau yang bersifat tatap muka kerap menemui kendala dalam proses belajar mengajar, serta lulusannya yang dianggap sulit bersaing dalam dunia kerja, apakah kemudian sekolah online mampu menjawab tantangan tersebut?

Lalu bagaimana juga dengan kesejahteraan guru sekolah online, apakah sama-sama memprihatinkan seperti sekolah offline atau sekolah formal pada umumnya?

Kita semua tahu bahwa sekolah online umumnya berstatus private sector atau swasta, sehingga sumber pendanaannya seringkali lebih beragam daripada sekolah formal (apalagi yang berstatus negeri). Kebanyakan dari mereka bahkan masih mengandalkan pendanaan melalui program-program belajar tertentu (dengan tambahan diskon dan seterusnya). Sehingga di sini siswa tidak hanya dijadikan sebagai murid, tapi juga sebagai “konsumen”.

Hal ini seolah menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi sekolah atau pendidikan butuh pemerataan yang menjangkau semua lapisan masyarakat, namun di sisi lain, pendidikan online seperti Ruangguru dan lain-lain ini menawarkan program yang lebih menarik, dan lebih relevan dengan kebutuhan zaman sekarang, namun hanya bisa dijangkau oleh mereka yang “berduit”.

Tidak Sepenuhnya Menggantikan Sekolah Formal

Ilustrasi perbandingan sekolah formal dengan sekolah online foto Gemini AI

Meskipun pendidikan online berupa startup seperti Ruangguru sudah eksis sejak 2014 lalu, namun sifatnya hanyalah sebagai “suplemen” (tambahan) dari sistem pendidikan formal yang sudah ada sejak lama. Atau lebih tepatnya seperti bimbel (bimbingan belajar) yang digarap secara online. Kehadiran mereka lebih kepada melengkapi apa yang masih kurang dari pendidikan formal, terutama yang bersifat teknis (misalnya pendalaman materi tertentu). Hal inilah yang dianggap masih lemah dari sekolah formal. Apalagi dengan keterbatasan waktu dan keharusan untuk berinteraksi secara tatap muka, maka kehadiran “bimbel online” seperti Ruangguru dianggap cocok untuk melengkapi kekurangan tersebut.

Berdasarkan jurnal dari salah satu mahasiswa Universitas Prima Indonesia pada 2022 lalu, siswa yang sepenuhnya mengandalkan online sebagai metode pembelajaran cenderung memiliki hasil belajar yang lebih buruk daripada sekolah konvensional pada umumnya (mengacu pada pembelajaran online di masa pandemi COVID-19 tahun 2020). Karena sekolah online memungkinkan siswa mendapatkan informasi dari berbagai sumber, sehingga membuat kredibilitas hasil capaian mereka sedikit diragukan.

Untuk persaingan di dunia kerja? Well, seperti yang kita ketahui bersama, bahwa persaingan di dunia kerja, di sektor manapun itu, saat ini menjadi semakin ketat. Parahnya tidak banyak lulusan atau sarjana, baik itu dari pendidikan formal maupun secara online, yang benar-benar siap untuk mengarungi persaingan ketat tersebut.

Kabar baiknya, sekolah online bisa menjadi salah satu alternatif bagi guru dalam mengajar. Banyak platform pendidikan online seperti Ruangguru yang membuka posisi tutor online, pengajar privat, dan sebagainya. Bahkan penghasilan dari tutor online ini seringkali lebih besar daripada menjadi guru di sekolah formal (tanpa embel-embel ASN atau honorer dan lain-lain), serta mampu menjangkau lebih banyak murid dari berbagai daerah (atau bahkan negara). Sesuatu yang sudah pasti tidak bisa dijangkau oleh sekolah formal.

Namun tentu saja, para “guru online” ini juga perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi dan juga AI, dalam mendidik siswa-siswinya secara daring (dalam jaringan).

Tantangan di dunia pendidikan adalah tantangan sepanjang zaman. Pendidikan yang baik baru benar-benar bisa dilihat dari capaian yang diraih setelah lulus, sehingga akan sulit untuk menilai jika masih berada dalam sistem tersebut. Kehadiran sekolah online memang terbukti membantu siswa dan juga guru dalam metode pembelajaran, namun tetap saja, masih banyak sistem yang harus dibenahi oleh semua pihak, agar sekolah online tidak hanya menjadi tren sesaat saja, tapi juga mampu menjembatani kesuksesan suatu negara dalam peradaban dunia. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *