Sistem Bioflok Dorong Produktivitas Budi Daya Ikan Nila di Dusun Sambiroto

Mabur.co – Upaya pengembangan budi daya ikan air tawar dengan sistem bioflok terus digencarkan sebagai upaya peningkatan produksi perikanan sekaligus penguatan ekonomi masyarakat. 

Perkembangan budi daya ikan air tawar dengan sistem bioflok itu juga dilakukan di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satunya diterapkan oleh warga Padukuhan Sambiroto, Kalurahan Banyuroto, Kapanewon Nanggulan.

Sistem bioflok ini dipilih karena dinilai jauh lebih efisien dibandingkan metode budi daya konvensional lainnya. Baik itu menggunakan kolam tanah maupun kolam semen yang dinilai banyak membutuhkan lahan yang luas.

Dalam budi daya ikan sistem bioflok, pembudidaya memanfaatkan teknologi berupa mikroorganisme untuk mengolah limbah sisa pakan dan kotoran ikan menjadi sumber nutrisi tambahan. Dengan cara tersebut, kebutuhan pakan buatan dapat ditekan dan kualitas air tetap terjaga.

Sentra budaya ikan nila sistem bioflok di Dusun Sambiroto Kapanewon Nanggulan Kulon Progo Foto JH Kusmargana

Di Sambiroto, pengembangan budi daya ikan nila sistem bioflok sendiri dilakukan oleh Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Lestari. Saat ini, kelompok tersebut mengelola delapan kolam terpal dengan ukuran diameter masing-masing empat meter. Seluruh kolam difungsikan untuk pembesaran ikan nila.

Ketua Pokdakan Mina Lestari, Sumarjo, mengatakan fasilitas budi daya ini berasal dari bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Bantuan tersebut meliputi kolam terpal, 5.600 ekor bibit ikan nila, pakan, satu unit genset, serta perlengkapan aerasi berupa pipa dan selang aerator.

“Bantuan ini sangat membantu karena warga bisa langsung memulai budi daya tanpa harus menyiapkan modal besar di awal,” kata Sumarjo, saat dijumpai mabur.co di area budi daya kolam ikan bioflok.

Sumarjo Ketua Pokdakan Mina Lestari Foto JH Kusmargana

Dalam satu kolam bioflok, sebanyak 700 ekor ikan nila ditebar. Dengan kepadatan tersebut, satu kolam diperkirakan mampu menghasilkan panen sekitar satu kuintal ikan dalam satu siklus produksi. Jika harga jual ikan berada di kisaran Rp23.000 per kilogram, maka pendapatan kotor dari satu kolam mencapai sekitar Rp2,3 juta.

Dengan delapan kolam yang dikelola, potensi pendapatan kelompok dalam satu kali panen bisa mencapai lebih dari Rp18 juta, sebelum dikurangi biaya operasional.

Sumarjo menjelaskan, dengan sistem ini waktu pemeliharaan ikan relatif lebih singkat dibandingkan metode konvensional. Pertumbuhan ikan lebih cepat karena kualitas air stabil dan ketersediaan oksigen selalu terjaga melalui aerator.

Selain itu, mikroorganisme yang terbentuk di dalam kolam juga dapat menjadi sumber pakan alami bagi ikan. Hal ini membuat kebutuhan pakan pabrikan dapat ditekan, sehingga biaya produksi menjadi lebih efisien.

Penggunaan aerator dalam sistem bioflok Foto JH Kusmargana

Warga Sambiroto, Bambang, yang turut terlibat dalam pengelolaan kolam, mengatakan sistem bioflok cukup mudah diterapkan. Pasalnya ia selama ini juga mendapatkan pendampingan dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). Menurutnya, tantangan terbesar justru terletak pada kedisiplinan dalam menjaga kualitas air dan kestabilan aerasi.

“Kalau aerator mati terlalu lama, ikan bisa stres. Karena itu listrik harus selalu menyala,” ujar Bambang.

Kebutuhan listrik selama 24 jam nonstop menjadi salah satu kelemahan sistem bioflok. Untuk mengantisipasi pemadaman, kelompok memanfaatkan genset bantuan pemerintah sebagai sumber listrik cadangan.

Meski terdapat tantangan, Bambang menilai keuntungan sistem bioflok lebih besar dibandingkan kekurangannya. Selain biaya pakan yang lebih hemat, tingkat kelangsungan hidup ikan juga lebih tinggi.

Warga memberi pakan ikan nila Foto JH Kusmargana

Pengembangan bioflok di Sambiroto tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi warga. Kelompok Pokdakan secara rutin melakukan diskusi dan evaluasi untuk memperbaiki pola pemeliharaan.

Warga berharap sistem bioflok dapat terus dikembangkan dengan penambahan jumlah kolam serta perluasan jenis ikan yang dibudidayakan. Dukungan pemerintah dalam bentuk pelatihan, pendampingan teknis, serta akses permodalan dinilai masih sangat dibutuhkan.

Jika dikelola secara berkelanjutan, budi daya ikan nila sistem bioflok diyakini mampu menjadi sumber penghasilan alternatif bagi warga Sambiroto, sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis perikanan air tawar di tingkat desa. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *