38 Tahun Menjadi Raja Keraton Yogyakarta, Ini Kiprah Sri Sultan HB X 

Mabur.co— Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem, sebuah peringatan sakral yang menandai hari kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai raja Yogyakarta. Tradisi ini, menjadi simbol kesinambungan kepemimpinan raja dalam menjaga martabat budaya kasultanan.

Sebagaimana dikutip dari situs resmi keraton Yogyakarta, Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem berasal dari kata “tingalan” yang berarti peringatan dan “jumenengan” yang berarti penobatan. Upacara ini dimaknai sebagai sarana menjaga hubungan spiritual antara raja, rakyat, dan leluhur Kasultanan Yogyakarta. 

Sejarah mencatat, Keraton Yogyakarta berdiri pada 13 Maret 1755 setelah Perjanjian Giyanti membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Sejarah menyebutkan bahwa Pangeran Mangkubumi kemudian dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I, sultan pertama Yogyakarta.

Sebagai pendiri kasultanan, Sri Sultan Hamengku Buwono I meletakkan dasar kepemimpinan yang memadukan kekuatan politik, budaya, dan spiritual. Nilai-nilai kepemimpinan tersebut, hingga kini terus diwariskan hingga masa Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Perjalanan Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi raja sendiri dimulai sejak masa mudanya sebagai Bendara Raden Mas Herjuno Darpito. Berdasarkan biografi resmi yang banyak dimuat media dan situs sejarah Yogyakarta, beliau lahir pada 2 April 1946 dan tumbuh dalam lingkungan keraton yang berpadu dengan pendidikan modern.

Sejak muda, Sultan HB X telah menjalani berbagai penugasan adat dan sosial di lingkungan keraton. Dalam berbagai publikasi Sultan HB X dikenal memiliki gaya kepemimpinan yang terbuka, komunikatif, dan cukup dekat dengan masyarakat.

Setelah wafatnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Bendara Raden Mas Herjuno Darpito dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 7 Maret 1989. Peristiwa ini tercatat dalam dokumentasi resmi Keraton Yogyakarta yang dapat diakses melalui kratonjogja.id.

Sejak menjadi raja, Sri Sultan Hamengku Buwono X memainkan peran penting dalam menjaga kelestarian budaya sekaligus mendorong pembangunan Yogyakarta. Pemerintah Daerah DIY melalui situs resminya mencatat bahwa berbagai kebijakan kebudayaan, pendidikan, dan pariwisata berbasis kearifan lokal berkembang pesat di masa kepemimpinannya.

Dalam kapasitasnya sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan HB X juga dikenal sebagai figur pemersatu yang mampu menjaga keistimewaan Yogyakarta tetap sejalan dengan sistem demokrasi nasional.

Kiprah Sultan HB X juga tercatat di tingkat nasional. Pada Pemilihan Presiden 2009, ia juga sempat mencalonkan diri sebagai calon presiden. Meski akhirnya gagal, hal ini menunjukkan keterlibatan aktif dirinya dalam dinamika perpolitikan nasional. Terlebih selama ini, Sultan HB X selalu menjadi tokoh sentral yang rutin ditemui setiap calon presiden dalam proses pilihan presiden.

Melalui kepemimpinannya, Sri Sultan Hamengku Buwono X  konsisten menempatkan Keraton Yogyakarta sebagai institusi budaya yang tetap hidup, relevan, dan berwibawa. Para sejarawan menilai bahwa kepemimpinan Sultan HB X mampu menjadi jembatan antara warisan Sri Sultan Hamengku Buwono I dengan tantangan zaman modern, sekaligus menegaskan peran Kasultanan Yogyakarta sebagai bagian penting dari perjalanan bangsa Indonesia. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *