Hajat Besar Tingalan Jumenengan Dalem, Ini Pandangan Warga yang Pantas Dicatat

Mabur.co- Awal tahun 2026 ini, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar hajat besar yang dinanti-nantikan oleh masyarakat dan wisatawan. Acara tersebut adalah peringatan Ulang Tahun Kenaikan Tahta atau yang dikenal dengan istilah Tingalan Jumenengan Dalem.

Tahun ini merupakan peringatan kenaikan tahta yang ke-38 bagi Sri Sultan Hamengku Bawono ka-10.  Peringatan ini jatuh pada 29 Rejeb tahun Dal 1959. Ada yang istimewa pada perayaan kali ini.

Bertepatan dengan tahun Dal 1959, Keraton Yogyakarta akan menggelar prosesi Labuhan Ageng Dlepih. Ini tergolong momen langka karena tidak dilakukan setiap tahun, melainkan mengikuti siklus tahun Jawa tertentu. 

Pengasuh Pesantren Joglo Alit, Jogonalan, Klaten, Muhammad Qowim, mengatakan Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono ka-10, lazimnya melalui serangkaian acara berupa Ngebluk, Ngapem, Sugengan, dan Labuhan.

Menurut Muhammad Qowim hal ini menunjukkan bahwa alam Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat lebih mengarah kepada nuansa tantris yang memandang bahwa semua bagian alam semesta berjiwa.

“Raja adalah khalifatullah, manajernya Gusti Allah yang mengelola dan mengorganisir segenap potensi dengan prinsip hamemayu hayuning bawono. Mempercantik semesta yang memang sudah cantik. Menggelorakan kehidupan pada semua makhluk hidup di semesta,” ujarnya saat dihubungi mabur.co via Whatsapp, Rabu (14/1/2026).

Muhammad Qowim menjelaskan, tatkala raja bertahta di bulan Rajab yang merupakan salah satu bulan suci, kekuasaan sinuwun hadir untuk memuliakan jiwa-jiwa semesta, terutama gelora jiwa rakyat Ngayogyakarta Hadiningrat serta bumi laut dan angkasanya. Nuansa tantris pun menolak hadirnya dewa-dewa di alam semesta, yang ada adalah jiwa-jiwa dalam setiap bagian semesta.

“Tahta raja harus berdaulat untuk mengelola, merawat, dan memuliakan jiwa-jiwa dalam semesta sekaligus melindungi mereka dari kuasa para dewa. Entah dewa politik, dewa bisnis, dewa media, dan dewa-dewa lainnya,” ujarnya.

Muhammad Qowim, mengatakan, terkait flash back 38 tahun Sri Sultan Hamengku Bawono ka-10 bertahta, sebagai warga  yang diinginkan, maka dirinya mengingatkan bahwa momentum jumenengan agar menjadi refleksi. Apalagi, kini, semua pemerhati dari berbagai kalangan masyarakat sedang mengkhawatirkan perpecahan di dalam Keraton Yogyakarta. Seperti halnya Keraton Solo dulu. Oleh sebab itu, perlu memegang teguh nuansa tantris tersebut.

Muhammad Qowim juga mengharapkan momen jumenengan ini bisa membuka wacana baru. Mengingat adanya pihak yang berseteru sekarang. Satu pihak didukung kalangan santri yang menghendaki khalifah. Satu kubu lainnya lebih didukung sikap modernis yang merombak tatanan lama.

“Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan pewaris peradaban sapta sindawah, tujuh sungai yang lahir dari Giri Merapi (Gunung Merapi). Di sini, gunung, keraton, dan samudra menjadi perwujudan tatanan yang memuliakan bagian-bagian semesta, beserta segenap penghuninya,” tandasnya. 

Bagi Muhammad Qowim pula, tentu akan banyak ragam aspirasi warga. Sang raja pun akan melaksanakan amanah kedaulatan dengan ajaran hanglaras ilining banyu mili, ngeli hananging ora keli. Menyelaraskan semua aspirasi, mengikuti tanpa hanyut.

“Sebuah filosofi khas negeri sungai yang menghubungkan gunung dan samudra. Ngayogyakarta Hadiningrat layak berbangga telah membangun terusan sungai yang sangat ikonik dikenal sebagai Selokan Mataram,” katanya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *