Sensasi Pindang Kerbau H Sulichan Kudus

Oleh: Wahjudi Djaja

Hujan mendera Kudus sepanjang hari. Beberapa titik terkena banjir dan tanah longsor akibat tingginya intensitas hujan. Saat aktivitas harus tetap bergerak dan dijalankan, pilihan jatuh pada warung H Sulichan.

Menyejarah sejak 1968, soto H Sulichan tidak hanya menyediakan pseudo-soto, tetapi juga menawarkan sensasi lidah khas Kota Kretek. Ada yang pernah merasakan pindang kerbau, menu legendarisnya?

Pas di takaran, pas di lidah, pas di dompet. Disajikan dalam piring kecil berlapis daun pisang, pindang kerbau H Sulichan memang unik dan istimewa.

Ramah disajikan segala waktu, kenikmatan pindang melekat di lidah. Bagi banyak orang, mengolah daging kerbau mungkin lebih sulit dibanding sapi atau kambing. Tetapi, tidak bagi H Sulichan dan masyarakat Kudus.

Tak perlu bercerita kenapa masyarakat Kudus menghindari olahan makanan dari sapi. Anda mungkin sudah mendengar atau membacanya, bagian dari legenda yang berakar pada sejarah. Kota ini melintasi zaman dari waktu ke waktu.

Sejak periode pengaruh Cina, Majapahit, Demak, kolonial hingga kini. Semua terekam jelas dari bangunan yang tersisa. Mengelilingi Kudus serasa mengikuti jelajah Kota Lama, artistik, unik dan aura kewaliannya tinggalan Syekh Ja’far Shadiq, terasa belum hilang.

Terletak di pusat kuliner Taman Bojana di tengah kota, warung soto H Sulichan menjadi penanda kekayaan gastronomi Nusantara.

Kaldu yang asli dan kental, serat daging kerbau yang lembut, dan aroma bumbu rempah yang khas serta penyajian yang tradisional. Kecerdasan orang Kudus dalam meramu dan mengolah makanan memang dikenal masyarakat luas.

Menikmati nasi pindang kerbau sambil ngobrol, akan membuat waktu cepat berlalu dan tak bisa menemukan sensasinya. Cobalah makan dan nikmati tiap sendoknya, kunyah sampai halus, dan rasakan kecerdasan tangan H Sulichan. Itu akan lebih mengena dan mengesankan. Baru setelah selesai, silakan ngobrol sambil menikmati teh nasgitel (panas, legi, kenthel), hidup serasa tamasya ke masa lalu.

Jika tak setiap saat pergi ke Kudus, agendakan saat ke kota ini menikmati kuliner yang ada. Selain memperkaya pengetahuan gastronomi, juga ikut merawat sejarah kuliner. Jaga lidah kita agar tetap ramah dengan olahan tradisional bangsa sendiri. Menjaga taste adalah cara baik dan bijak mencintai bangsa sendiri. Tak perlu teriak “NKRI Harga Mati”, itulah wujud rasa nasionalisme kita.

Asyik, kan? ***

Penulis: Wahjudi Djaja (Budayawan Sleman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *