Mabur.co – Sebagai salah satu kerajaan bercorak Islam yang ada di Nusantara, Keraton Yogyakarta memiliki tradisi unik dalam memperingati Isra Mikraj yang merupakan peristiwa luar biasa tentang perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Dilanjutkan dengan naik ke langit ketujuh untuk menerima perintah salat dari Allah SWT.
Setiap peringatan Isra Mikraj, Keraton Yogyakarta selalu rutin mengadakan tradisi yang disebut dengan Hajad Dalem Yasa Peksi Buraq. Tradisi ini dilakukan dengan membuat hiasan burung Buraq yang diyakni merupakan hewan kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad SAW untuk melakukan Isra Mikraj.
Dibuat dari hasil bumi berupa buah-buahan, daun-daunan serta bunga-bungaan, hiasan burung Buraq ini nantinya akan diarak dan dibawa oleh para Abdi Dalem ke Masjid Gedhe atau Masjid Agung Kauman untuk didoakan bersama-sama dalam acara peringatan Isra Mikraj.
Sebagaimana dikutip dari situs resmi Keraton Yogyakarta, kratonjogja.id, tradisi Hajad Dalem Yasa Peksi Buraq ini diawali dengan membuat hiasan Peksi Burak, pohon buah, serta empat pohon bunga. Peksi Burak dibuat menggunakan buah dan kulit jeruk bali. Kulit tersebut dibentuk dan diukir menyerupai badan, leher, kepala, dan sayap burung.
Burung jantan akan diberi jengger (pial) untuk membedakannya dari burung betina. Masing-masing Peksi Burak akan diletakkan di atas sebuah susuh, atau sarang, yang dirangkai dari daun kemuning sebagai tempat bertengger. Peksi Burak dan susuh ini diletakkan di bagian paling atas dari pohon buah dengan disangga oleh ruas-ruas bambu.

Sementara itu pohon buah dibuat dari tujuh macam buah lokal yang dirangkai pada sebuah anyaman bambu, sehingga menyerupai bentuk sebuah pohon. Bilangan tujuh dalam bahasa Jawa disebut pitu. Pitu di sini dimaksudkan agar memperoleh pitulungan atau pertolongan, keselamatan, dan kesejahteraan.
Secara berurutan tujuh macam buah yang dirangkai pada pohon tersebut terdiri dari salak, sawo, apel malang, jeruk bali, rambutan, manggis, dan di bagian paling bawah terdapat pisang raja. Pisang raja melambangkan bahwa Raja Kesultanan Ngayogyakarta adalah pengayom bagi rakyatnya. Sebagai sentuhan terakhir, pohon buah ini juga akan dililit dengan untaian bunga melati yang melambangkan kesucian.
Masih dikutip dari situs Keraton Yogyakarta, empat pohon bunga akan dibuat dari rangkaian dedaunan dan berbagai macam bunga yang dirangkai pada kerangka bambu. Pohon bunga ini menggambarkan taman surga. Keseluruhan hiasan Peksi Burak menggambarkan sepasang burung jantan dan betina yang sedang bertengger pada pohon buah-buahan di taman surga.
Tradisi Yasa Peksi Burak sendiri biasanya dilaksanakan sejak pagi hari di lingkungan Keraton Yogyakarta. Yakni oleh para kerabat dan Abdi Dalem putri, dengan dipimpin oleh permaisuri atau pun putri sultan.
Yang menarik pekerjaan membuat Peksi Burak, miniatur pohon buah-buahan, serta kegiatan merangkai bunga melati dan kantil ini, hanya boleh dilakukan oleh para kerabat dekat sultan. Baik itu istri pangeran, wayah dalem/cucu, dan sentana dalem atau kerabat.

Sedangkan pembuatan pohon bunga atau taman bunga dilakukan oleh para Abdi Dalem Keparak (Abdi Dalem wanita). Proses ini diselenggarakan hingga menjelang waktu salat Zuhur di Bangsal Sekar Kedhaton, yang berada di wilayah keputren.
Selepas salat Asar, Peksi Burak yang telah selesai dirangkai akan diarak menuju Masjid Gedhe. Sesampainya di Masjid Gedhe, Peksi Burak diserahkan kepada Abdi Dalem Pengulon Masjid Gedhe. Penyerahan dilanjutkan dengan doa permohonan keselamatan dan kesehatan bagi sultan dan keluarganya, berharap juga adanya kelestarian Keraton Yogyakarta, serta kesejahteraan rakyat atau kawula alit pada umumnya.
Setelah Peksi Burak diterima dan selesai didoakan maka semua Abdi Dalem yang membawa arak-arakan Peksi Burak akan undur diri untuk kembali ke Keraton Yogyakarta.
Setelah seluruh rangkaian Peringatan Isra Mikraj di Masjid Gedhe selesai dilaksanakan pada malam harinya, biasanya Abdi Dalem akan membagikan buah-buahan yang ada di rangkaian Peksi Burak kepada seluruh warga masyarakat yang hadir.
Masyarakat percaya buah-buahan tersebut dapat memberikan keberkahan, keselamatan, maupun kesejahteraan bagi hidup mereka. ***



