Mengenal Situs Kahyangan Wonogiri, Salah Satu Lokasi Labuhan Keraton Yogyakarta 

Mabur.co – Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar tradisi Tingalan Jumenengan Dalem atau peringatan kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Memasuki tahun ke-38 ini pelaksanaan Tingalan Jumenengan Dalem dilakukan dengan format berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Dikutip dari Radar Jogja, perbedaan utama terletak pada prosesi labuhan. Tahun ini, labuhan dilakukan di empat lokasi berbeda  karena peringatan jatuh pada Tahun Dal 1959 dalam kalender Jawa dan bertepatan dengan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Jika di tahun-tahun sebelumnya keraton hanya menggelar Labuhan Alit di tiga lokasi yakni Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, dan Gunung Lawu, maka di tahun Dal ini akan dilakukan Labuhan Ageng dengan menggelar lokasi labuhan di 4 lokasi. Yakni 3 lokasi di atas ditambah 1 lokasi lagi, yaitu di kawasan Desa Dlepih, Kahyangan, Kabupaten Wonogiri.

Sementara itu, dikutip dari situs resmi Desa Dlepih serta situs resmi Humas Pemkab Wonogiri, wilayah Dlepih sendiri terletak di Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Desa Dlepih dikenal sebagai kawasan bersejarah dengan nilai spiritual tinggi karena keberadaan situs Kahyangan Dlepih, yang diyakini sebagai tempat pertapaan Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram Islam.

Menurut cerita rakyat, Panembahan Senopati adalah raja pertama Mataram Islam yang pernah melakukan pertapaan di sejumlah situs di kawasan ini, seperti Sela Gapit berupa dua batu besar yang berhimpit membentuk celah sebagai pintu masuk ke petilasan lain. 

Lalu ada Selo Bethek, berupa batu besar yang bagian bawahnya dapat digunakan berteduh. Selo Payung yakni batu besar berongga yang digunakan Panembahan Senopati untuk bertapa. Lalu ada Sela Gawok berupa batu berlubang yang hanya cukup untuk satu orang bersemedi. 

Selanjutnya adalah Sela Gilang berupa batu datar yang dipercaya sebagai tempat Panembahan Senopati menunaikan salat lima waktu. Hingga Kedung Pasiraman berupa mata air tempat Panembahan Senopati melakukan kungkum atau berendam.

Di tempat-tempat itulah Panembahan Senopati dipercaya mencari petunjuk dan kekuatan spiritual dengan menjalin komunikasi dengan Kanjeng Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan, sebelum akhirnya berhasil mendirikan Kerajaan Mataram.

Hingga kini, situs-situs tersebut masih dijaga dan dihormati masyarakat setempat. Sejumlah tradisi lokal seperti ritual ngalab berkah bahkan masih dilestarikan, terutama pada malam-malam tertentu seperti Satu Suro. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *