Harga Gudeg Nuthuk Lebih Enak di Yogya?

Kalau Anda sebagai makhluk homo sapiens sejati ternyata kangen dengan gudeg, apa yang Anda lakukan?

Ya tinggal memburu dan makan gudeg. Selesai. Tapi, pernahkah Anda membedakan gudeg harga natural dan gudeg harga nuthuk atau sengaja dijual mahal.

Apakah berbeda rasanya, meskipun penjualnya sama dan merupakan andalan Anda? Hanya karena selang sekian hari saja maka Anda akan berhadapan dengan gudeg harga natural dan gudeg harga nuthuk itu. Hahaha.

Itulah sepenggal pengalaman saya dengan gudeg dan Yogya yang keduanya sama-sama saya cintai. Kalau kisah ini didengar oleh trah Pakubuwana V sebagai penulis Serat Centhini yang di dalamnya menyebut tentang gudeg, barangkali mereka akan tertawa ngakak.

Intinya, gudeg sebagai kuliner ideologis lidah Yogya yang sudah diakui oleh UNESCO itu bisa tetap diperlakukan dalam koridor kultural maupun kapitalisme. Dalam koridor kultural siapa pun homo sapiens tidak bisa menyepelekan gudeg yang sudah terlanjur menjadi ikon kuliner Yogya.

Meskipun di masa sekarang rasa gudeg di Yogya juga aneh-aneh saja. Ada yang terlalu manis, ada yang terlalu gurih, ada yang rasanya malah anyep atau tiada rasa khusus. Rasa standar gudeg sendiri akhirnya susah didefinisikan.

Itulah gudeg Yogya kini, Guys. Oleh sebab itu para homo sapiens pemangsa gudeg harus pintar cari orang jualan gudeg. Di manakah yang memang standar rasanya ideal?

Saya kalau diminta mendefinisikan rasa gudeg yang enak, maka yang keluar adalah pernyataan begini: gudeg yang di lidah saya cukup gurih, legit, rasa gurih dan legitnya lengket di lidah cukup lama.

Pastilah itu terkait bumbu gudeg. Kalau pakai suwiran nangka atau gori ya manisnya awet juga. Begitu pula dengan krecek dan suwiran tempe atau tahu. Jika pakai telur maka hasil menanak telurnya juga mantap. Jika telur itu dimakan agak keras justru meninggalkan rasa yang gurih dan enak cukup lama.  Begitu juga jika sekaligus pakai daging ayam, maka bagian paha atau dada jadi incaran favorit untuk mengganyang tandas keseluruhan gudeg.

Biasanya, untuk tetap mengakrabi gudeg yang bernuansa kultural cukup pekat dan lumayan jauh dari terpaan badai kapitalisme, saya agak gampang menengarai. Cari yang penjualnya tua. Sepertinya sudah jadi jaminan akan mendapatkan gudeg yang rasa dan harganya standar. Bahkan rasanya bisa saja malah di luar ekspektasi.

Menghadapi dua kutub yang berseberangan yaitu kuliner ideologis dan kapitalistik, harus pandai mendamaikan keduanya. Harus ada kompromi berupa pengamatan yang jeli agar tidak terjerembab dalam kubangan dendam.

Jika menghadapi gudeg Yogya saja sebagai homo sapiens sejati Anda masih dendam, maka akan runtuh semua rasa tentang gudeg. Bagaikan apel malam Minggu yang gagal karena sudah keduluan orang lain atau justru dibiarkan oleh orang yang Anda apeli.  

Kolom rutin saya di media kesayangan Anda mabur.co ini kebetulan saya tulis malam Minggu, saat lidah saya juga tiba-tiba rindu dengan kuliner gudeg.

Sebenarnya mudah saja, tinggal pencet ponsel juga bisa dan gudeg yang ditunggu akan datang. Soal rasa jangan terlalu menggugat jika jauh dari kecewa dan tidak perlu dendam.

Memang di era kiwari, untuk urusan gudeg yang eksis di era post truth dan sekaligus era hiperrealitas ini, kebenaran tentang rasa juga bisa menjadi relatif. Perut para homo sapiens yang minta diganjal bisa menetralisir ketegangan soal rasa dan mendamaikan apa yang sesungguhnya Anda butuhkan.

Asal Anda tidak mengumpat dan dendam setelah makan, semoga rasa dan harga gudeg itu sudah ideal. Hahaha… ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *